Menu Navigasi

Sultan Suryanullah atau Sultan Suriansyah atau Sultan Suria Angsa adalah Raja Banjarmasin pertama yang memeluk Islam. Ia memerintah tahun 1520-1540. Nama aslinya adalah Pangeran Samudera, ia merupakan raja Banjar pertama sekaligus raja Kalimantan pertama yang bergelar Sultan yaitu Sultan Suryanullah. Gelar Sultan Suryanullah tersebut diberikan oleh seorang Arab yang pertama datang di Banjarmasin, beberapa waktu setelah Pangeran Samudera diislamkan oleh utusan Kesultanan Demak. Setelah mangkat Sultan ini mendapat gelar anumerta Panembahan Batu Habang atau Susuhunan Batu Habang, yang dinamakan berdasarkan warna merah (habang) pada batu bata yang menutupi makamnya di Komplek Makam Sultan Suriansyah di kecamatan Banjarmasin Utara, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Nama lahirnya adalah Raden Samudera kemudian ketika diangkat menjadi rajadi Banjarmasin oleh para patih (kepala kampung) di hilir sungai Barito, kemudian ia memakai gelar yang lebih tinggi yaitu Pangeran Samudera atau Pangeran Jaya Samudera. Ia lebih terkenal dengan gelar Sultan Suriansyah, dari kata surya (matahari) dan syah (raja) yang disesuaikan dengan gelar dari Raden Putra (Rahadyan Putra) yaitu Suryanata (nata = raja) seorang pendiri dinasti pada zaman kerajaan Hindu sebelumnya.
Menurut naskah Cerita Turunan Raja-raja Banjar dan Kotawaringin alias Hikayat Banjar resensi I, Sultan Suryanullah merupakan keturunan ke-6 dari Lambung Mangkurat dan juga keturunan ke-6 dari pasangan Puteri Junjung Buih dan Maharaja Suryanata. Maharaja Suryanata dijemput dari Majapahit sebagai jodoh Puteri Junjung Buih (saudara angkat Lambung Mangkurat).
Selain itu gelar lainnya yang dipakai adalah Suryanullah (= matahari Allah), selanjutnya sultan-sultan Banjar berikutnya memakai kata Allah pada nama belakangnya, sedangkan nama belakang syah tidak pernah digunakan lagi oleh penerusnya.
Pada 24 September 1526 bertepatan 6 Zulhijjah 932 H, Pangeran Samudera memeluk Islam dan bergelar Sultan Suriansyah. Tanggal ini dijadikan Hari Jadi Kota Banjarmasin.
Raden Samudera adalah putera dari Puteri Galuh Beranakan (Ratu Intan Sari) yaitu puteri dari Maharaja Sukarama dari Kerajaan Negara Daha. Dan nama bapaknya adalah Raden Mantri Alu, keponakan Maharaja Sukarama. Nama “Suriansyah” sering dipakai sebagai nama anak laki-laki suku Banjar.
Makam Sultan Suriansyah terletak di tepian sungai kuin yang bermuara di sungai besar Barito, kurang lebih 1 km dari arah mesjid beliau. Di dalam bangunan makam (kubah) beliau juga terdapat makam istri, anak, keluarga serta kerabat kerajaan beliau. wallahu a’lam

Manaqib

Datu Sanggul, demikian masyarakat menyebutnya, adalah seorang ulama dan tokoh masyarakat, khususnya di wilayah Tatakan, Tapin Selatan, Tapin. Ia hidup sekitar abad ke-18 M, satu zaman dengan Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.

Ia berasal dari Palembang (versi lain mengatakan: Aceh/Hadramaut), kemudian melanglang buana ke berbagai penjuru untuk menuntut ilmu, hingga akhirnya tiba di Tatakan dan berguru dengan Datu Suban, seorang ulama besar yang ada di Tatakan, Tapin Selatan, Tapin juga, hingga akhir hayatnya dan makamnya terus diziarahi oleh masyarakat.

Atas jasa-jasanya pada masyarakat, namanya dijadikan nama sebuah rumah sakit di Rantau, RSUD Datu Sanggul.

Dalam salah satu riwayat diceritakan, Datu Sanggul disebutkan bernama asli Syekh Muhammad Abdussamad. Dalam riwayat lainnya, disebutkan bahwa nama dia adalah Ahmad Sirajul Huda.

Salah satu riwayat menceritakan, hal tersebut karena ketekunannya dalam dalam mentaati perintah gurunya di dalam khalwat khusus yang sama artinya dengan ‘menyanggul’ atau menunggu (turunnya) ilmu dari Allah SWT

Ada juga yang mengatakan ia sering menyanggul (bahasa lokal) atau menghadang pasukan tentara Belanda di perbatasan Kampung Muning, sehingga tentara Belanda pun kocar-kacir dibuatnya.

Versi lainnya lagi menyebutkan, gelar Datu Sanggul itu karena kegemaran dia menyanggul (menunggu) binatang buruan.

Ada juga yang mengatakan rambutnya yang panjang dan selalu disanggul (digelung).

Ketulusan hatinya dalam melaksanakan ibadah, dan ketaqwaannya dalam menegakkan kalimat-kalimat Allah, serta keramat yang diberikan Allah kepadanya, membuat ia tesrkenal sampai ke pelosok negeri.

Satu hal yang amat tergambar dalam sosok Datu Sanggul, adalah ketekunannya dalam menuntut dan menyempurnakan ilmu.

Datu Sanggul sangat terkenal pula dengan syair-syairnya yang begitu puitis dan penuh makna.

Salah satu syair yang sangat terkenal adalah syair pantun “Saraba Ampat”[1][5] (bahasa banjar: Serba Empat). Syair tersebut berbahasa Banjar yang sarat dengan pelajaran tasawuf. Di antara petikan syair tersebut berbunyi;

“Allah jadikan saraba ampat. Syariat tharikat hakikat ma’rifat. Menjadi satu di dalam khalwat. Rasa nyamannya tiada tersurat”. — Datu Sanggul

Ada lagi syair ma’rifat lainnya:

“Jangan susah mencari bilah. Bilah ada di rapun buluh. Jangan susah mencari Allah. Allah ada di batang tubuh” — Datu Sanggul
Kemudian, ada lagi syair lain yang berbunyi:

“Riau-riau padang si bundan. Di sana padang si tamu-tamu. Rindu dendam tengadah bulan. Di hadapan Allah kita bertemu”. — Datu Sanggul

Syair itu dilantunkan Datu Sanggul saat muncul dari tengah sungai dan berjalan di atas air dengan tenangnya tanpa basah sama sekali terkecuali pada anggota wudhu.

Pada waktu itu, di kerajaan Banjar yang masyarakatnya sangat menjunjung tinggi nilai agama, mewajibkan bagi laki laki yang sudah aqil balik atau sudah dewasa untuk melaksanakan salat Jum’at di masjid kampung masing masing. Kalau tidak melaksanakan kewajiban tersebut, akan didenda.

Dalam riwayat, Datu Sanggul dipercayai memiliki keramat melaksanakan Salat Jum’at di Masjidil Haram setiap Jum’atnya. Karena itu, setiap hari Jum’at itu pun dia harus membayar denda kepada kerajaan sampai habis harta dia, hingga suatu saat yang tertinggal hanya kuantan dan landai (alat untuk memasak nasi dan sayuran).

Dalam kondisi itu, setelah didesak oleh istri dia karena tidak ada lagi barang yang bisa dipakai untuk membayar denda, Datu Sanggul akhirnya berjanji untuk melaksanakan salat Jum’at di masjid kampungnya. Kala itu, sungai di kampungnya sedang meluap dan hampir terjadi banjir lantaran hujan yang sangat lebat pada malam harinya.

Di saat para jamaah sedang berwudhu di pinggir sungai,tiba-tiba Datu Sanggul datang dan langsung terjun ke sungai yang sedang meluap tersebut. Dia bercebur lengkap dengan pakaiannya. Orang-orang berteriak dan menjadi gempar. Dan tiba-tiba lagi, di tengah kegemparan masyarakat itu, Datu Sanggul muncul dari tengah sungai dan berjalan di atas air dengan tenangnya, lalu langsung memasuki masjid. Lebih mengherankan, pakaian dia tidak basah sama sekali, kecuali anggota wudhunya.

Masyarakat semakin terkejut, tatkala imam mengangkat takbir memulai salat Jum’at diikuti jamaah lain, Datu Sanggul hanya melantunkan syair tadi; “Riau-riau padang si bundan. Di sana padang si tamu-tamu. Rindu dendam tengadah bulan. Di hadapan Allah kita bertemu… Allahu Akbar”.

Bersamaan ucapan Allahu Akbar itu, tubuh dia mengawang-awang hingga selesai orang mengerjakan salat Jum’at. Melihat keadaan Datu Sanggul yang demikian, orang-orang yang berada di masjid semakin keheranan.

“Aku tadi salat di Makkah. Kebetulan di sana ada selamatan dan aku meminta sedikit, mari kita cicipi bersama walau sedikit” — Datu Sanggul

Demikian kata Datu Sanggul di saat orang-orang masih keheranan.

Sejak saat itulah, masyarakat percaya sepenuhnya bahwa Datu Sanggul adalah seorang Waliyullah. Barang-barang Datu Sanggul yang semula disita pun dikembalikan oleh kerajaan.

Dalam riwayat lagi, keramat Datu Sanggul ini pun dibuktikan Datu Kalampayan, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.

Pada suatu hari Jum’at di Kota Mekkah, Datu Kalampayan ada di sana. Sewaktu di Masjid Mekkah untuk melaksanakan salat Jum’at berjamaah, Datu Kalampayan melihat seseorang sembahyang di dekatnya. Dia tertarik untuk mengetahui, karena orang itu mengenakan baju palimbangan hitam dan celana hitam serta memakai laung. Datu Kalampayan yakin bahwa ia bukan orang-orang Mekkah, karena orang-orang Mekkah tidak ada yang berpakaian demikian. Pakaian seperti itu hanya dipakai oleh orang Banjar atau orang tanah Jawa. Dan peristiwa itu dilihat Datu Kalampayan selama beberapa kali Jum’at. “Tidak salah lagi, ini pasti orang Banjar,” ujar Datu Kalampayan kala itu.

Lalu, Datu Kalampayan mengulurkan tangannya, kemudian mereka bersalaman. Tak puas bertemu di masjid, Datu Kalampayan membawa orang itu ke rumahnya. Syekh Muhammad Arsyad lalu bertanya dan dijawab orang tersebut bahwa ia bernama Datu Sanggul. Datu Kalampayan bertanya pula: “Saudara ini orang mana, asal negeri mana dan sudah berapa lama tinggal di Mekkah.”

Datu Sanggul menjawab pertanyaan itu dengan senyum. “Saya setiap Jum’at datang ke sini untuk bersembahyang, dan aku berasal dari Banjar. Tempat diamku di Banjar. Jelasnya Tatakan,” ujarnya.

“Jauh juga. Kalau begitu melewati Martapura, Kayu Tangi. Melalui tempat tinggalku. Itu sangat jauh. Jika demikian dengan apa ke mari setiap Jum’at?,” ujar Datu Kalampayan bertanya.

Datu Sanggul pun menjawab, “Aku tidak memakai apa-apa. Hanya karena hendak ke mari saja, dan kebetulan Allah SWT memberikan kekuatan kepadaku sehingga aku sampai ke sini.”

Terpikir dalam hati Datu Kalampayan tentang kedatangan Datu Sanggul itu, apakah ia memang masih waras atau orang yang terganggu pikirannya. Jawaban Datu Sanggul tadi dirasanya tak masuk akal sehat. Sebab mungkinkah jarak yang demikian jauhnya antara Tatakan dan Mekkah bisa dicapai hanya dalam waktu begitu singkat, dan bahkan tidak memakai apa-apa. Namun dari dialek bahasanya, Datu Kalampayan yakin bahwa Datu Sanggul adalah berasal dari Banjar.

Untuk menguji ketidakpercayaannya itu, Datu Kalampayan pun kemudian berkata kepada Datu Sanggul. “Kalau betul engkau pulang pergi dari Tatakan ke sini, coba tolong hari Jum’at yang akan datang bawakan aku oleh-oleh dari kampung. Aku sudah sangat lama tidak pulang. Mungkin sudah mencapai waktu 30 tahun. Selama ini aku selalu berada di Mekkah tak pernah ke mana-mana. Nah kira-kira musim buah apa di kampung kita? Bawakan ke mari untukku, terutama di Martapura sekarang ini musim apa kiranya,” ujar Datu Kalampayan.

Datu Sanggul lalu berdiri di depan jendela. Tangannya dilambaikannya ke luar jendela. Ketika ia menarik kembali tangannya, ada sebiji durian dan kuini. “Nah, Datu Kayu Tangi ambil durian dan kuini ini. Ini datang dari Sungkai,” kata Datu Sanggul.

Buah itu diterima Datu Kalampayan, dan diperiksa masih ada getah dari tangkai kuini itu. Sama seperti baru dipetik dari samping rumah. Durian dan kuini tersebut masak pula. Segera Datu Kalampayan mengupas dan memakannya. Memang betul durian dan kuini. Di Mekkah kedua buah tersebut tidak ada. Kuini Jawa saja tidak terdapat, kecuali jenis asam-asaman lain. Dan saat Datu Kalampayan kembali ke Tanah Banjar, ia semakin kaget karena ada buah kuini dari kerajaan Banjar yang tiba-tiba menghilang. Rupanya, buah kuini itulah yang dipetikkan Datu Sanggul untuk Datu Kalampayan.

Sejak pertemuan awal itu, Datu Sanggul dan Datu Kalampayan semakin sering bertemu di setiap salat Jum’at. Dan karena sering bertemu, maka terjalinlah persahabatan antara keduanya. Sering Datu Sanggul dibawa ke kediaman Syeikh Muhammad Arsyad. Datu Sanggul pun tidak pernah menolak. Dari persahabatan keduanya ini pula kemudian ada satu kitab yang dikenal Kitab Barencong. Yakni, kitab yang dibagi dua secara diagonal. Satu bagian dipegang oleh Datu Kalampayan, dan sebagian lainnya dibawa oleh Datu Sanggul.

Datu Sanggul lebih muda wafat, yakni di tahun pertama kedatangan Syekh Muhammad Arsyad di Tanah Banjar. Berkat keterangan Syekh Muhammad Arsyad-lah identitas kealiman dan ketinggian ilmu Datu Sanggul terkuak serta diketahui oleh masyarakat luas, sehingga mereka yang asalnya menganggap “Sang Datu” sebagai orang yang tidak pernah salat Jumat sehingga tidak layak untuk dimandikan, pada akhirnya berbalik menjadi hormat setelah diberitakan oleh Syekh Muhammad Arsyad sosok Datu Sanggul yang sebenarnya.

Menjelang akhir hayatnya, Datu Sanggul minta dibawakan kain kafan kepada Datu Kalampayan apabila Datu Kalampayan selesai menuntut ilmu dari Mekkah (pulang ke Tanah Banjar). Dan ternyata, kain kafan itu digunakan untuk mengkafani Datu Sanggul sendiri yang berpulang ke hadirat Allah bertepatan dengan pulangnya Datu Kalampayan dari Mekkah ke Tanah Banjar.

Manaqib


Live Streaming Haul ke 23 KH. Mahfudz Amin oleh Aswaja.Net.

KH. Mahfuz Amin putra tuan Guru H. Muhammad Ramli putra Tuan guru H. Muhammad Amin. Ia adalah putra pertama dari Sembilan bersaudara, pasangan Tuan guru H. Muhammad Ramli dan Hj. Malihah, Hj. Rapiah dan terakhir Tuan guru H. Muhammad Zuhdi.

Mahfuz Amin dilahirkan di Pamangkih pada malam selasa tanggal 23 Rajab 1332 (sekitar tahun 1914 M) dirumah orang tuanya yang sederhana diasuh dan dibesarkan di bawah pengawasan sehingga menjadi orang yang mulia dan banyak berjasa.

Ia pertama kali dididik dan dibesarkan ditengah-tengah keluarga yang religius, sebab orang tuanya yang bernama H. Muhammad Ramli adalah ulama berpengaruh dan dikenal mempunyai ilmu agama yang dalam. Tidak heran kalau di Pamangkih, orang tua dari Tuan guru H. Muhammad Ramli yakni Tuan guru H. Muhammad Amin di sebut Tuan guru besar, sedangkan Tuan guru H. Muhammad Ramli dikenal dengan Tuan guru Tuha, karena ditangannyalah kata putus dalam berbagai persoalan, baik yang menyangkut bidang agama maupun problem sosial kemasyarakatan lainnya.

Dalam usia 6 tahun, ia sudah belajar al-Qur’an tahap pertama, di bawah pengajaran langsung orang tuanya. Pendidikan formal ia tempuh di volk School selama tiga tahun di Pamangkih yang kemudian dilanjutkan ke Vervolk School selama 2 tahun di Desa Banua Kupang.

Selain itu beliau tidak pernah belajar di sekolah formal lainnya. Untuk selanjutnya ia menempuh pendidikan nonformal berupa pengajian agama yang diberikan oleh orang tuanya sendiri disamping mengikuti pengajian dengan Tuan guru Muda H. Hasbullah putra H. Abdur Rahim di dekat Mesjid Jami’ Pamangkih. Selain itu ia jiga belajar dengan Tuan guru H. Muhammad Ali Bayangan dan Tuan guru H. Mukhtar di Desa Negara.
Tahu 1938, saat berusia 24 tahun ia berangkat ke tanah suci mekkah al-Mukarramah untuk menunaikan ibadah haji seraya memperdalam ilmu pengetahuan, khususnya ilmu agama.

Diantara guru-gurunya selama di kota Mekkah antara lain adalah :

  • Syeikh Yasin al-Fadani
  • Syeikh Abu Bakar Putra Sulaiman
  • Syeikh al-‘Allamah Abdul Qadir al-Mandili
  • Al-‘Allamah asy- Syeikh H. Muhammad Anang Sy’arani
  • Syeikh Abdurrahman, Kelantan
  • Syeikh Muhammad Nuh, Kelantan
  • Syeikh Muhammad Ahyad putra Idris alpBughuri
  • Syeikh Abdul Kaliq, Perak, Malaysia
  • Syeikh KH. Abdul Jalil al-Maqdisi
  • As-Sayyid Alawy putra Sayyid Abbas al-Maliki
  • As-Sayyid Amin Kutbi
  • Syeikh Hasan Muhammad al-Masysyath
  • Syeikh Mukhtar, Ampenan

Setelah 3 tahun menimba ilmu pengetahuan di Tanah Suci, ia pulang ke tanah air dan tepat pada tanggal 8 Oktober 1941 tiba kembali di kampung kelahirannya. Sejak saat itu ia mulai mengajar agama sambil terus belajar di samping aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan.

Setelah hamper 20 tahun berkecimpung dimasyarakat, bermacam pengetahuan dan pengalaman telah diperoleh, pahit manisnya kehidupan telah dilalui, namun cita-cita ingin menyebarkan dan ingin meninggikan agama Allah tidak pernah padam. Hingga pada saatnya pada tahun 1958, fajar cita-cita yang diidamkan mulai tebit bersinar di Desa Pamangkih. Lembaran-lembaran kitab kuning yang mulai siran kembali cerah dengan berdirinya sebuah pondok pesantren yang bernama “Ibnul Amin” yang belum pernah sepertinya di Kalimantan pada umumnya.

Manaqib

Sewaktu Guru Abah Bakrie masih belajar dipondok pesantren Darussalam martapura tepatnya dikelas 3 uLya,kebetulan wali kelasnya yaitu Abah Guru Sekumpul,hari itu Guru Abah Sekumpul memberikan PR kepada semua murid dikelas itu pelajaran tashawwuf kitab Minhajul Abidin.kemudian Abah Guru sekumpul memberikan soal2 kepada murid,kata Abah Guru Sekumpul besok dikumpul tugasnya.tiba2 Guru Abah Guru H.Bakrie menjawab langsung dengan lisan kepada Abah Guru Sekumpul tanpa melihat dikitab.Abah Guru sekumpul tersenyum dan berkata”Bakrie kada usah lagi digawe tugasnya karena sudah dijawab lisan”.hal inilah Guru Abah H. Bakrie jadi murid kesayangan Abah Guru Sekumpul dikelas.karena Guru H.Bakrie murid teladan dikelas itu.
Pada tahun 1993 sewaktu Abah H.Bakrie belajar beduduk dirumah Abah Guru Sekumpul disekumpul,pada waktu itu hadir juga Guru Sufiannur dan Guru Usuf,ketika Abah Guru Sekumpul hendak memulai belajaran,Abah sekumpul bercanda kepada Guru Abah H.Bakrie dan berpesan kepada Guru H.Bakrie”lamun nyawa Bakrie’ae melajari murid lucu’i supaya murid nyawa lakas faham.maka dari itu disetiap pengajian Guru H.Bakrie pasti ada kisah yang lucu dengan niat supaya murid cepat faham karena disuruh Guru Sekumpul.Abah Guru sekumpul kasyaf bahwa Guru Bakrie ini nantinya jadi ulama besar dibanjar maka dari itu Abah Guru sekumpul berpesan hal itu kepada Guru Bakrie.
Abah Guru H.Bakrie selama mondok didarussalam selalu mendapat juara pertama dan murid teladan.
Cara pengajian Abah Guru H.Bakrie persis dengan cara Abah sekumpul mengajar.beliau adalah ulama besar dikalimantan selatan khususnya dibanjarmasin.
Beliau lahir di Amuntai pada tahun 1956 dan wafat pada tanggal 1 februari 2013/20 Robi’ul Awwal 1434 H.beliau adalah pendiri pondok pesantren aLMursyidul Amin-gambut, dan jenazah beliau di makamkan di belakang mesjid pesantren yang beliau dirikan tersebut. Untuk mengetahui biograi beliau secara menyeluruh bisa dibaca di buku biograi beliau yang banyak dijualdi toko-toko sekitar pesantren beliau. Wallahu a’lam

Manaqib

Menyebut nama Syekh Abdul Hamid atau sering kita sebut Datu Abulung…pasti dibenak kita terkenang akan seorang ulama yang pernah menggemparkan Kalimantan dengan paham wihdatul wujudnya,sepak terjang beliau memang tak banyak yang mengetahui karna beliau tidak ada meninggalkan kitab karangan seperti ulama ulama lainnya,keilmuan beliau cuma dapat kita ketahui secara lisan dari mulut kemulut atau dari pewaris para murid beliau,banyak pendapat yang berbeda tentang kisah beliau ada yang menyatakan bahwa ilmu beliau salah atau manyalah (bahasa banjar) tapi sebagian masyarakat banjar bahkan hampir seluruhnya menyatakan bahwa datu abulung ini adalah seorang wali Allah,terlepas dari segala kontropersi yang ada riwayat beliau sangat dicari oleh sebagian masyarakat banjar.
Dalam sejarah pemikiran keagamaan dikalimantan pada abad ke 18 setidaknya ada tiga tokoh ternama dikerajaan banjar selain Datu Suban dan para muridnya yang sakti mandraguna,pada masa itu para ulama banjar memang sangat terkenal dengan segala karamah dan kesaktiannya,diantara tiga orang tokoh ternama dan terkenal tersebut adalah
1.Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau Datu Kalampayan
2.Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari atau Datu Nafis
3.Syekh Abdul Hamid Abulung atau Datu abulung
Dan sosok Datu Abulung inilah yang penuh misteri hingga saat ini,pada masa itu pemerintahan kerajaan diperintah oleh sultan Tahlilullah, saat itu lah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dan Syekh Abdul Hamid muda diberangkatkan oleh kerajaan banjar untuk menuntut ilmu dengan biaya kerajaan dengan harapan nantinya bisa membawa sinar terang bagi kerajaan banjar,mereka diberangkatkan keTanah Suci Makkah Al-Mukarramah,tercatat Datu Kalampayan belajar kepada beberapa orang guru (baca riwayat Datu Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari),sedangkan Datu abulung juga belajar kepada beberapa orang guru yang sayangnya tidak tercatat karena tidak adanya karangan beliau yang biasanya merujuk kepada guru guru pengarang,sepulangnya dari menuntut ilmu ditanah suci Datu Syekh Abdul Hamid mulai mengajarkan ilmu yang didapatnya dari guru gurunya di Mekkah kepada masyarakat sekitarnya,diantara yang beliau ajarkan adalah ilmu Tasawuf,namun ilmu tasawuf yang beliau ajarkan kepada orang awam ini sangat berlainan dengan pelajaran tasawuf yang selama ini dikenal masyarakat,Datu Abulung mengajarkan bahwa;
Tiada yang maujud hanya Dia
Tiada maujud lain-Nya
Tiada aku melainkan Dia
Dia adalah aku
aku adalah Dia
Dalam pelajaran Syekh Abdul Hamid Abulung juga diajarkan bahwa Syariat yang diajarkan selama ini adalah kulit belum sampai kepada isi (hakikat),sedangkan pelajaran yang selama ini diyakini masyarakat umum yaitu Tiada yang berhak dan patut disembah selain Allah ,Allah adalah Khalik dan selainnya adalah makhluk,tiada sekutu bagi-Nya,ajaran Datu Abulung ini kurang lebih seperti ajaran Abu Yazid Al-Bustami,husein bin Mansyur Al-Hallaj yang kemudian memasuki Indonesia melalui Hamzah Fansuri dan Syamsuddin disumatera dan Syekh Siti Jenar di pulau Jawa.
Mendengar fatwa Datu Abulung yang berbeda dari kebanyakan paham masyarakat pada waktu itu,maka gemparlah masyarakat yang menerima ajaran tersebut,bahkan ajaran yang beliau sampaikan menjadi pembicaraan masyarakat umum yang mana akhirnya samapi ketelinga Sultan,sebelum Datu Abulung dipanggil sultan terlebih dahulu minta pendapat syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (satu riwayat mengatakan tanpa diketahui Syekh Muhammad Arsyad) tentang ajaran Datu abulung tersebut.setelah menelaah beberapa kitab kemudian diambil kesimpulan bahwa ajaran yang dibawa Datu Abulung yang diajarkan kepada orang awam tersebut bisa menyesatkan masyarakat dan bisa merusak kehidupan beragama,adalah kewajiban Ulama dan Umara melindungi keagamaan rakyatnya dari unsur unsur yang membahayakan,jika tidak dapat dengan jalan damai maka lebih baik menyingkirkan nya , Menolak mafsadah (keburukan)lebih didahulukan dari pada mengambil manfaat.Melenyapkan seseorang untuk menyelamatkan orang banyak dibolehkan menurut hukum malah terkadang wajib (Zafri Zam Zam,Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari,1979,hal 13)berdasarkan keputusan tersebut maka dipanggillah Datu abulung,salah seorang prajurit kerajaan disuruh untuk mendatangi Datu Abulung setelah sampai ditempat Datu Abulung lalu dipanggillah beliau,satu riwayat menceritakan pemanggilan tersebut,prajurit itu berkata Hai Syekh Abdul Hamid ..anda dipanggil baginda Sultan ,kemudian dijawab oleh Datu Abulung “Syekh Abdul Hamid tidak ada yang ada hanya Allah…mendengar hal tersebut prajurit tersebut dan mengadukan kepada sultan,kemudian sultan menyuruh kembali dan memanggil “Allah “tersebut,setelah sampai ditempat Datu Abulung prajurit itu kembali berkata “hai Allah anda dipanggil baginda Sultan”yang kemudian dijawab kembali oleh Datu Abulung “Allah tidak ada yang ada hanya Nur Muhammad” mendengar hal itu prajurit kemali kekerajaan dan mengatakan hal tersebut kepada Baginda Sultan..kemudian sultan berkata panggil ketiganya Syekh Abdul Hamid,Allah dan Nur Muhammad ,barulah setelah prajurit tersebut memanggil seperti dipesankan sultan barulah Datu Abulung berkunjung keistana,ditengah perjalanan menuju istana dipasanglah perangkap yang apabila terpijak maka melesatlah sebilah tombak tajam yang akan menghujam ketubuh orang yang menginjaknya,saat itu terbukti kebenaran ajaran Syekh Abdul Hamid Abulung,ketika beliau menginjak perangkap tersebut tombak tajam itu memang melesat dengan cepatnya diudara dan berhenti tepat dibelakang Datu Abulung dan jatuh ketanah tanpa beliau mengetahuinya,setelah sampai diistana dan terjadi tanya jawab,sultan ingin bukti kebenaran ajaran Datu Abulung,kemudian beliau berucap’Ashadu alla ilahaillallah’ tiba tiba tubuh beliau menghilang,kemudian terdengar lagi suara “wa ashadu anna muhammadarrasulullah” timbullah kembali badan beliau,semua orang kagum melihat hal tersebut,tapi dengan menimbang untuk keselamatan orang awam yang lebih banyak maka dihukumlah Syekh Abdul Hamid Abulung dengan didimasukkan kedalam kerangkeng yang ukurannya hanya muat tubuh beliau dan hanya cukup untuk berdiri,dengan kurungan seperti itu akhirnya beliau ditenggelamkan disungai lok buntar,maka akhirnya tenggelamlah sampai kedasar sungai.
Tanpa diketahui oleh semua orang suatu keanehan terjadi apabila tiba waktu sholat fardhu maka kerangkeng tersebut akan timbul dari permukaan sungai,dan beliau kemudian keluar dari kerangkeng tersebut dan melakukan sholat,setelah selesai sholat maka secara perlahan kerangkeng tersebut tenggelam kembali kedasar sungai,pada suatu malam menjelang subuh sepuluh orang pencari ikan yang sampai pada sekitar tenggelamnya Syekh Abdul Hamid lamat lamat mereka mendengar suara azan,perlahan lahan mereka mendekati sumber suara azan tersebut dari kejauhan mereka melihat keganjilan dan keanehan Datu Abulung tersebut,sejak saat itu mereka mengangkat beliau menjadi guru mereka,dari beliau mereka belajar berbagai ilmu agama islam,karena jumlah mereka sepuluh maka dinamakan orang sepuluh atau sekarang orang menyebutnya Datu Sepuluh,setelah selesai belajar orang sepuluh ini menjadi pegawai kerajaan
Setelah direndam dalam air Datu Abulung tidak juga mati dan akhirnya diketahui kerajaan maka akhirnya Datu Abulung kembali dibawa kekerajaan,dihadapan sultan akhirnya Datu abulung megatakan bahwa beliau tidak bisa dibinasakan dengan alat apapun kecuali dengan senjata yang ada didinding rumah beliau dan menancapkannya didalam daerah lingkaran yang beliau tunjukkan dibelikat beliau,setelah sholat dua rakaat ,senjata tersebut ditancapkan dibelikat beliau sudah ditandai tersebut maka memancarlah darah segar dari tempat itu dan anehnya darah tersebut membentuk kalimat ”LAA ILAAHA ILLALLAH MUHAMMADUR RASULULLAH”‘ innaa Lillaahi wa Innaa ILaihi Rajiuun.
setelah sekian lama kubur beliau akhirnya ditemukan oleh masyarakat atas petunjuk dari Alm.Tuan Guru H.Muhammad nor Tangkisung yang juga diyakini adalah seorang Kekasih Allah letaknya sebelah hilir dari Kampung Dalam Pagar,dan sekarang dipelihara makamnya oleh warga setempat,selain itu keanehan makam yang terletak dipinggir sungai itu berapa kali tergeros air sungai dan turun kebawah tp setelah itu makam itu naik dengan sendirinya dan tanah dibawahnya juga mengikuti makam tersebut. Wallahu a’lam

Manaqib

Mufti Haji Muhammad Arsyad Lamak Pagatan bin Mufti Haji Muhammad As’ad al Banjari

salah satu putra Mufti Haji Muhammad As’ad putra Syarifah putri Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari adalah Muhammad Arsyad yang dikenal dengan sebutan Mufti Lamak. Ia termasuk cicit Syeikh Muhammad Arsyad yang mewarisi ilmu-ilmu datuknya dan ayahnya dan menghimpun antara syriat dan hakikat.
Muhammad Arsyad belajar di Tanah suci Mekkah beberapa tahun lamanya, diantara guru-gurunya adalah:
– Asy-Syeikh Ahmad ad-Dimyiati (Mufti Syafi’iyyah)
– Asy-Syeikh Yusuf
– Asy-Syeikh ar-Rahbini
Ketika ia tiba dari menuntut ilmu di kota sumbernya ia kemudian diangkat oleh Sultan Banjar menjadi Mufti di kerajaan Banjar. Selain sebagai ulama ia juga dikenal sebagai seorang pahlawan, seorang ulama yang berani menegakkan yang hak dan memberantas yang batil, kasih sayang terhadap sesamanya, lemah lembut dalam berbicara, pemurah, adil terhadap yang benar dank eras terhadap orang yang berbuat salah, sehingga kasihlah semua lapisan masyarakat dan para pejabat.
Ia selalu menegakkan dan menjalankan faham Ahlus Sunah wal Jamaah dan menegakkan prinsip ‘Menyerukan untuk berbuat kebaikan dan mencegah terjadinya kemungkaran’.
Disamping jabatannya sebagai mufti di Kerajaan Banjar, ia juga mengajar di dalam bidang berbagai ilmu agama, diantara muridnya adalah Sultan Adam al-Watsiq Billah.
Mufti Haji Muhammad Arsyad, pernah menikah dengan beberapa orang perempuan, yaitu:
– Tilamah, di muara sungai pamintangan, namun tak mendapatkan keturunan.
– Kemudian ia menikah lagi di sungai karias dengan seorang perempuan cantik yang bernama Tuan Inur (saudara Anang Ja’far ayahnya H. Muhammad Thayyib, Lok Bangkal, seorang berilmu lagi mulia), juga tidak memperoleh keturunan.
– Kemudian ia menikah lagi di Balimau, kandangan dengan Tuan Rahimah, juga tidak memperoleh keturunan.
– Kemudian ia menikah di Martapura dengan ummu Salamah binti Mufti H. Ahmad, dari istri putri seorang ulama besar inilah ia mendapat tujuh orang anak, tiga orang putra dan empat orang putri, diantaranya:
Hafsah
Haji Utsman, seorang yang berilmu lagi mulia
Khadijah
Sa’idah
KH. Muhammad Hasyiem
Shafura (istri Datu Landak)
H. Abdul Muthalib
Mufti haji Muhammad Arsyad memiliki sifat-sifat kemuliaan, seperti pemurah, pengasih, lemah lembut, sabar dan seorang ulama yang wara’ sehingga ia selalu dikasihi oleh saudara-saudaranya, terutama adiknya yang bernama Haji Sa’duddin, Kubah Taniran, Kandangan. Sejak wafatnya Mufti Haji Muhammad Arsyad sang adikpun jarang sekali pulang ke Martapura, karena ia merasa benar-benar kehilangan atas kepergian kakak tercintanya.
Pada masa pemerintahan Sultan Abdur Rahman bin sultan Adam, yang memerintah sekitar tahun 1857-1859 M atau sekitar tahun 1274-1276 H. Mufti Muhammad Arsyad yang juga disebut Tuan Mufti Lamak bercita-cita akan pergi ke tanah suci mekkahuntuk menunaikan ibadah haji, sebelum ia pergi maka lebih dahulu ia mengunjungi kakak tertuanya, yakni H. Abu Thalhah, seorang yang sangat berilmu, yang ketika itu masih menetap di Pagatan, sebagai perwujudan sifat-sifatnya yang selalu menghormati dan memuliakan saudara tuanya dan rasa kasih sayangnya terhadap kakak dan sesamany. Namun, setibanya ia di Pagatan, ia mendapat sakit yang membawanya sampai meninggal dunia dan akhirnya di makamkan di Pagatan, Kota Baru.
Menurut catatan H. Ismail Khatib, seorang yang berilmu dan mulia. Tuan Mufti Haji Muhamad Arsyad, berpulang ke rahmatullah pada hari Sabtu tiga likur hari bulan Rabiul Awwal 1275 H. Di masa pemerintahan Sultan Abdur Rahman bin Sultan Adam, atau kira-kira 48 tahun setelah wafatnya Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari yang wafat 6 Syawwal 1227 H.
Makamnya telah dibuatkan kubah oleh Mufti Indragiri, Riau, KH.Abdur Rahman Shiddiq, sapat, selaku seorang cucu yang berbakti kepada sang kakek tercinta. Kemudian dipugar atau direnovasi kembali dan menjadi bangunan permanen oleh Pemerintah Daerah Tingkat II Kota Baru. Wallahu a’lam

Manaqib

Tak banyak riwayat yang bisa kita kupas dari seorang waliullah yang bernama Syaikh Aminullah atau Datu Bagul ini. Hanya saja, berdasarkan kisah yang disampaikan Paman Fauzan, seorang penjaga makam Datu Bagul di Desa Tungkaran, Martapura, Datu Bagul wafat kira-kira 287 tahun yang lalu, atau lebih dahulu ketimbang Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjary atau Datu Kalampayan (wafat 200-an tahun lalu).

Jika diperkirakan bahwa beliau wafat sekitar 287 tahun lalu, maka diperkirakan, tahun beliau wafat adalah 1726. Wallahu a’lam. Menurut Paman Fauzan, warga Desa Tungkaran, Datu Bagul adalah yang mula-mula mendiami kawasan Tungkaran tersebut yang dulunya adalah kawasan hutan dan berdataran tinggi, alias bebas banjir ketimbang kawasan langganan banjir lainnya seperti Tunggul Irang, Pingaran, Astambul, Dalam Pagar dan lain-lain di pesisir Sungai Martapura.

Dikatakannya, berdasarkan kisah yang disampaikan Syaikh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Guru Sekumpul, Datu Bagul sebenarnya bernama asli Syaikh Aminullah, berasal dari Persia, Timur Tengah. “Guru Sekumpul mengetahui nama asli beliau, ketika Guru Sekumpul sering berkhalwat di makam ini puluhan tahun lalu. Bahkan, Datu Bagul sendiri yang memberitahukan nama asli beliau kepada Guru Sekumpul, di mana ketika itu, Guru Sekumpul secara kasyaf bisa bertemu bahkan berangkulan dengan Syaikh Aminullah sebagai sesama waliullah,” beber Paman Fauzan.

Datu Bagul menurut Guru Sekumpul adalah seorang habaib, atau masih keturunan Rasulullah SAW dari anaknya Siti Fatimah yang berkawin dengan Sayyidina Ali RA. “Menurut Guru Sekumpul, beliau sangat alim. Bahkan, sejarahnya tak banyak dikisahkan Guru Sekumpul. Kata Guru Sekumpul, Datu Bagul itu hanyalah gelaran dari penduduk setempat, yang sebenarnya nama asli beliau adalah Syaikh Aminullah, berasal dari Persia dan masih keturunan Rasulullah SAW,” ungkapnya.

Paman Fauzan menceritakan, dari riwayat yang ia himpun dari cerita para tetuha, Syaikh Aminullah memang sudah diperintahkan Rasulullah SAW untuk hijrah dari Persia ke Tanah Banjar yang kala itu di bawah kekuasaan Kesultanan Banjar. “Beliau datang semata-mata untuk mensyiarkan agama Islam. Konon, beliau menggunakan sebuah kapal yang cukup besar, lengkap dengan barang-barang dagangannya. Selain berdagang, beliau memberikan pengajaran agama Islam kepada penduduk Banjar,” jelasnya.

Sehingga suatu masa tibalah bagi Syaikh Aminullah berkhalwat di tengah hutan. Kapal dagangnya pun disandarkan di tepi bukit. “Di sebelah belakang makam ini, dulunya adalah danau yang luas dan dalam, sehingga kapal bisa masuk dari arah Sungai Martapura. Seiring waktu, kapal itu tenggelam atau bagaimana saya kurang mengerti. Namun, menurut para ulama yang kasyaf, memang di kawasan ini banyak khazanah-khazanah di dalam perut buminya, baik berupa intan maupun emas batangan, wallahu a’lam,” kisahnya. Hanya saja, khazanah itu masih ghaib, dan suatu masa kelak, khazanah itu akan keluar dengan sendirinya ke permukaan. “Menurut para tetuha, intan akan keluar dari perut bumi, layaknya batu-batu kerikil. Meski banyak di ditemukan, namun intan sudah tak terlalu berharga. Di zaman itu, semua orang kaya-kaya,” beber Paman Fauzan dengan tertawa.

Hanya saja, memang ada yang berdasarkan petunjuk Datu Bagul, mendulang intan di kawasan seputar makam itu, dan memang ada ditemukan beberapa butir intan.

Memang sebelum tahun 1975, untuk ke Tungkaran, warga Pekauman, Dalam Pagar atau Kampung Kramat, dan juga Keraton, mesti naik jukung. Barulah setelah itu ada jalan rintisan seiring program ABRI Masuk Desa. Bahkan, dahulu, Guru Sekumpul hobi berburu burung ke kawasan ini, sehingga untuk menuju Tungkaran yang dulunya dikenal Karang Tengah, Guru Sekumpul naik perahu.

Setelah sekian lama berkhalwat di tengah hutan di dalam pondokannya, Datu Bagul wafat. Oleh penduduk setempat, beliau dimakamkan di halaman pondokan beliau sendiri. Lokasi makam ini dulunya bernama Murung Binjai atau Murung Nangka. “Jadi, makam beliau sekarang ini, dulunya halaman pondok beliau. Beliau tak memiliki istri dan juga anak,” ungkapnya.

Paman Fauzan sendiri mengaku dipercayakan oleh Julak Kasim menjaga makam Datu Bagul. Menurutnya, Julak Kasim yang baru beberapa tahun lalu wafat, cukup dekat dengan Guru Sekumpul dan kalangan habaib.

Kubah menurut cerita dibina oleh Guru Sekumpul sekitar tahun 1980-an, sementara mushalla di lokasi tersebut menurut cerita dibina oleh H Harun, seorang sudagar asal Pesayangan, Martapura. Bahkan, kebun karet yang ada sekarang, dimiliki beliau yang kemudian diwariskan kepada anaknya, H Ijai. .

“Dikisahkan, H Harun sempat khawatir, bangunan mushalla di samping makam yang dibangunnya mubazir, karena memang jauh dari pemukiman penduduk. Lalu beliau meminta Guru Idris untuk menanyakan soal tersebut ke Guru Sekumpul. Belum lagi Guru Idris berkata, Guru Sekumpul sudah mengatakan bahwa mushalla tersebut kelak akan berguna. Guru Sekumpul berkata, ‘Belum lagi atap mushalla itu ada, aku sudah sembahyang di situ’,” kisahnya.

Sebelum tahun 2005, jalan dari Sungai Sipai ke Tungkaran dan menuju kubah masih jalan setapak dan berbatu. “Kemudian ada kisah bahwa Pak Rudy Ariffin, Bupati Banjar hendak maju menjadi calon gubernur Kalsel. Pak Rudy sowan ke Guru Sekumpul. Lalu oleh Guru Sekumpul, Pak Rudy disarankan untuk mengaspal jalan menuju kubah Datu Bagul sekalian bernazar di kubah tersebut. Singkat cerita, jalan sudah bagus dan tak lama kemudian, Pak Rudy menang sebagai Gubernur Kalsel pada 2005,” ungkapnya.

Selanjutnya, karena berkah Datu Bagul tersebut terasa, sekali lagi Rudy Ariffin bernazar bahwa akan membangunkan kubah yang megah jika terpilih lagi sebagai gubernur. Rupanya, Rudy Ariffin lagi-lagi dipercaya rakyat Kalsel di 2010 lalu. Kubah Datu Bagul pun dibangun beton dan megah, hingga selesai 2011 lalu.

“Kita tak bisa menafikan keberkahan waliullah. Jangankan urusan akhirat, urusan dunia bisa saja diperlancar dengan berkat waliullah. Wajar saja jika hal itu terjadi, karena mereka (waliullah) itu dekat (washil) kepada Rasulullah SAW dan dekat kepada Allah SWT,” ucap Paman Fauzan. Menurutnya, para waliullah itu di pandangan mata kepala wafat namun sebenarnya hanya berpindah alam, dan hakikatnya mereka tetap hidup dan masih mendapat limpahan rizqi dari sisi Allah SWT.

“Bahkan, mereka selola berdoa untuk umat Rasulullah baik bagi yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Mereka juga mengaminkan doa para peziarah. Hakikatnya, peziarah itu adalah tamu yang tentunya mereka (waliullah) itu akan menghormat kepada tamunya dan mengaminkan doa para peziarah,” cetusnya.

Menurut Paman Fauzan, para wali yang sudah berpindah alam, senang jika makamnya diziarahi, sehingga Rasulullah sangat menganjurkan kepada umatnya untuk berziarah ke makam aulia meski hanya sebentar atau seperahan susu, sedetik dua detik, karena nilainya bagaikan beribadah 1.000 tahun.

Paman Fauzan mengaku pernah bimbang ketika di musim banjir 2006 lalu, di mana musim paceklik, sehingga ia lalu munajat kepada Allah dengan bertawasul melalui Datu Bagul. “Alhamdulillah, benih tak lama bisa ditanam. Namun, masalah muncul lagi ketika menjelang panen, hama tikus menyerang. Sekali lagi saya bertawasul, anehnya, lahan milik saya seperti tak diminati tikus-tikus. Para tikus hanya berkeliaran saja tanpa banyak memakan padi. Tahun itu, saya panen dengan cukup memuaskan, sementara petani lain panennya kurang bagus,” katanya. Sumber lain menyebutkan bahwa Datu Bagul berthariqat syadziliyah. Wallahu a’lam

Manaqib

Dari sekian banyak keturunan Rasulullah yang mulia yang berdakwah mengajak manusia kepada kebenaran dialam ini salah satunya adalah Habib Ibrahim Al-Habsy Negara Kandangan Hulu Sungai Selatan Kalimantan Selatan,dari catatan catatan yang ada penulis belum menemukan kapan beliau lahir,yang pasti beliau lahir dikota para wali,kota yang penuh berkah ALLAH SWT,kotanya ilmu dan banyak lagi keutamaan keutamaan daerah ini,beliau lahir dikota seiwun Hadral Maut dan ber marga Al-Habsy salah satu marga marga keturunan Rasulullah yang tersebar dialam ini,terlahir dari keluarga yang mulia dengan keberlimpahan ilmu dari ayah bernama Habib Umar Al-Habsy membuat beliau sangat mencintai ilmu,selain dengan belajar kepada ayah beliau sendiri,salah satu guru beliau adalah Yang Mulia Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsy pengarang kitab Maulid Simthud Durar (semoga rahmat ALLAH selalu tercurah buat beliau dan seluruh keturunan beliau yang mulia)
selain dengan Al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsy beliau jua menimba ilmu dengan :
1.Al-Habib Ahmad bin Muhsin Al-Ahdhar
2.Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Manshur
3.Al-Habib Hasan bin Ahmad Al-‘Aydrus
4.Al-Habib Ali bin Salim bin Syekh Abu Bakar bin Salim
Al-Habib Ibrahim sendiri hapal Al-Qur’an dan lebih dari 12000 matan hadist,kedatangan beliau ke Indonesia sendiri adalah melaksanakan tugas yang diberikan gurunya yaitu Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsy shohibul maulid yang mempunyai banyak murid yang tersebar disluruh dunia,dan beliau datang ke Indonesia bersama 3 orang murid Habib Ali lainnya,selin itu beliau pergi ke Indonesia bersama anak tercinta yang bernama habib Muhammad Al-Habsy dan meninggalkan seorang saudara di Hadralmaut bernama Habib Musa bin Umar Al-Habsy,ketika pertama kali menginjakkan kaki pertama kali adalah di Ampel Surabaya kemudian beliau menetap di Banjarmasin dan Martapura dan terakhir menetap di Negara hingga akhir hayat beliau,tempat beliau mengajarkan ilmu adalah mesjid untuk itu beliau menyumbangan sebagian hartanya untuk pembangunan mesjid tersebut,pelajaran yang beliau sampaikan adalah pelajaran Tasawuf,Al-Adzkar karya Imam Nawawi,Syarah Ibnu Qasim dan Mukhtashar Al-hadhramiyyah.
ada kejadian yang sangat mengherankan ketika tengah melaksanakan pembangunan mesjid ,pada awalnya mesjid jami’ yang kini berada didesa Sungai Mandala dibangun didesa Tambak Bitin,satu desa yang terletak diseberang Sungai Mandala,pada suatu ketika terjadi angin ribut yang terjadi selama 3 hari 3 malam,angin ribut tersebut menerbangkan puncak mesjid Jami’ yang terletak didesa Tambak Bitin ke desa Sungai Mandala,kemudian puncak mesjid tersebut dikembalikan ke desa Tambak Bitin,namun ketika dikembalikan ketempatnya semula terjadi lagi angin ribut yang menerbangkan puncak mesjid itu dan hal tersebut berlangsung selama 3 kali,dengan adanya kejadian tersebut akhirnya Habib Ibrahim Al-habsy bersama masyarakat setempat sepakat untuk memindahkan pembanguan mesjid didesa Sungai Mandala.
Untuk pembangunan Mesjid tersebut diperlukan kayu besar dan tinggi,oleh masyarakat bersama sama mencari kayu tersebut namun sekian lama kayu yang diperlukan belum juga ditemukan akhirnya mereka melaporkan hal tersebut kepada Habib Ibrahim Al-Habsy,setelah mendapatkan laporan masyarakat tersebut akhirnya beliau melaksanakan sholat sunat dua raka’at,setelah beliau selesai sholat beliau memberitahukan masyarakat bahwa besok hari pada jam 11 akan tiba empat kayu besar dan tinggi,memang benar apa yang dikatakan beliau pada keesokan harinya tepat jam 11 siang terlihat empat batang kayu yang besar dan tinggi hanyut mengapung disungai mandala,untuk menaikkan kayu yang besar dan panjang tersebut tidak ada seorang pun yang sanggup,maka dengan diikatkan tali oleh Habib Ibrahim dan dengan bertawakkal kepada ALLAH kayu tersebut naik kedarat dengan tangan beliau sendiri.
Kejadian lain yang sangat mengherankan adalah ketika akan mendirikan tiang guru mesjid yang besar dan panjang tersebut,beliau meminta agar disediakan kayu gaharu atau cendana untuk ditaburkan diperapian namun ketika itu tak seorangpun mempunyainya,kemudian beliau mengumpulkan sisa potongan kayu kayu kecil dan dimasukkan diperapian,subhanallah…dari perapian tersebut keluar bau harum kayu gaharu dan kemudian dengan tangan beliau sendiri membetulkan letak tiang mesjid tersebut.
Untuk pembangunan mesjid itu diperlukan biaya yang tidak sedikit,beliau bersama masyarakat kemudian memohon sumbangan dari rumah kerumah,beberapa anggota masyarakat yang tidak berpunya juga didatangi beliau dan dengan jujur mereka mengatakan bahwa mereka tidak punya uang ,namun dengan tersenyum Habib mengatakan bahwa uangnya ada ditempat anu,dan setelah diperiksa tempat yang ditunjukkan oleh beliau ternyata disana memang ada uang,dan uang tersebut langsung diserahkan semuanya untuk pembangunan mesjid,demikianlah beberapa usaha Habib untuk membangun mesjid tempat penyebaran ajaran agama Islam.
Pernah suatu ketika beliau pergi ke Banjarmasin dan kendaraan yang beliau tumpangi mogok dijalan karena kehabisan bahan bakar,oleh beliau diperintahkan untuk mengisi bahan bakar tersebut dengan air..anehnya kendaraan tersebut dapat melanjutkan perjalanan sampai ketujuan,lain waktu beliau menyuguhkan tamunya dengan teko kecil padahal waktu itu tamunya banyak sekali tapi anehnya lagi dari teko kecil tersebut keluar air yang banyak sekali dan mencukupi semua tamu.
Menjelang kembalinya beliau ke pangkuan Ilahi beliau pulang ke Hadral Maut dengan keinginan menghabiskan usia dan ber makam disana,namun sesampainya beliau disana ternyata tanpa sengaja beliau membawa pena milik panitia pembangunan mesjid ,demi mengetahui bahwa beliau tanpa sengaja membawa pena milik orang lain beliau kemudian kembali ke Negara untuk mengembalikan pena milik panitia mesjid tersebut (subhanallah beginilah sifat sifat para Aulia ALLAH)
Dengan kedatangan beliau inilah merupakan terakhir kali masyarakat bertemu beliau,karena beliau ber pulang ke rahmatullah pada hari jum’ad tanggal 14 syafar 1354 H,sebelum sholat jum’ad dilaksanakan beliau memberikan tugas kepada orang orang tertentu untuk memandikan beliau,tidak lama setelah sholat jum’ad beliau berpulang ke rahmatullah seperti yang telah beliau sampaikan kepada keluarga beliau. Wallahu a’lam

Manaqib

Tugas dakwah tidaklah mengenal waktu dan tempat, dari sekian banyak keturunan Datu Kalampayan yang berdakwah di luar daerah adalah ‘Alimul Allamah Haji Ahmad bin Alimul Allamah Mufti Haji Muhammad As’ad anak dari Syarifah binti Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, beliau adalah salah satu ulama yang sempat menimba ilmu secara langsung dari Datuk beliau yaituSyekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan dari ayahnya sendiri yang merupakan seorang Mufti di kala itu, seorang yang berilmu lagi mengamalkan ilmunya, rendah hati, pemurah, penyabar dan di segani segenap lapisan masyarakat karena berani menegakkan kebenaran.

Beliau mendapat tugas untuk menyebarkan ilmu di daerah Balimau Kandangan, dengan ilmu yang beliau miliki dari hasil belajar dengan datuk nenek beliau yang berpengatahuan luas, beliau melakukan dakwah, beliau merupakan anak ketiga dari 12 bersaudara keturunan dari mufti Syekh Muhammad As’ad bin Syarifah binti Syekh Muhammad Arsyad al Banjari, adapun anak anak dari Syekh Muhammad As’ad adalah:

1. Alimul Allamah Haji Abu Thalhah wafat dan dimakamkan di Tenggarong Kutai kalimantan Timur
2. Allimul Allamah Haji Abu hamid wafat dan di makamkan di Ujung Pandaran Sampit kalimantan Tengah
3. Allimul Allamah Haji Ahmad wafat dan dimakamkan di Balimau Kandangan kalimantan Selatan
4. Allimul Allamah Haji Muhammad Arsyad lamak Mufti Pagatan dimakamkan di Pagatan Tanah Bumbu Kalsel.
5. Allimul Allamah Haji Sa’dudin wafat dan dimakamkan di kampung Taniran Kubah Kandangan Kalsel.
1. Saudah
2. Rahmah
3. Saidah
4. Salehah
5. Sunbul
6. Limir
7. Afiah

Konon menurut cerita masyarakat makam beliau yang sekarang,
yang terletak di daerah balimau adalah bukan tempat beliau di makamkan pertama kali.dahulunya setelah beliau wafat di makamkan di satu tempat namun tanpa di ketahui makam tersebut hilang, tapi pada satu malam makam beliau hilang tersebut terlihat satu cahaya terang benderang dari makam beliau yang pertama berpindah ke makam beliau yang sekarang ini. juga menurut penuturan masyarakat setempat ditempat makam beliau yang pertama telah di jadikan sarang maksiat oleh para perampok, oleh sebab itulah maka makam beliau berpindah dengan sendirinya dengan ijin Allah SWT ketempat yang lebih baik. Wallahu a’lam

Manaqib

Taniran adalah salah satu kampung besar di bagian Utara Kandangan. Saat ini, secara administratif kampung Taniran terbagi menjadi dua desa, yaitu Desa Taniran Kubah dan Desa Taniran Selatan. Di Desa Taniran Kubahlah terletak makam keramat Datu Taniran, lebih kurang 8 km dari kota Kandangan.

Masyarakat kampung Taniran sudah lama dikenal religius, paling tidak sejak akhir abad ke-18. Saya punya bukti bahwa sebelum kedatangan Datu Taniran, masyarakat kampung ini sudah dididik oleh Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf, yaitu ayahnya Sayyid Abu Bakr yang dikenal sebagai Habib Lumpangi di Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Sayyid Hasan ini diperkirakan berdomisili di kampung Taniran sekitar pergantian abad ke-18 dan 19 M, atau beriringan dengan masa-masa terakhir kehidupan Datu Kalampayan. Makam Sayyid Hasan sekarang dapat diziarahi di Desa Taniran Kubah sekitar 1 km lebih ke dalam daripada makam Datu Taniran.

Adapun Datu Taniran, nama beliau adalah Tuan Guru Haji Muhammad Thaib alias Haji Sa’duddin bin Mufti Haji Muhammad As’ad bin Syarifah binti Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Beliau dilahirkan di Dalam Pagar, Martapura, pada tahun 1774, dan meninggal pada 1858 di Taniran Kubah. Di dalam Manaqib Datu Taniran disebutkan bahwa beliau sempat bertemu langsung dengan Datu Kalampayan. Sejak usia 25 tahun, Datu Taniran sudah dikirim ke Haramain untuk belajar agama selama 10 tahun. Namun, beliau banyak berguru kepada ayah beliau sendiri dan juga kakak-kakak beliau, di samping tidak ketinggalan pula saudara beliau seperti Datu Pagatan dan Datu Balimau.

Menurut catatan sejarah, Datu Taniran berkhidmat sekitar 45 tahun di Kampung Taniran. Masa pengkhidmatan beliau itu merupakan era kejayaan religius Kesultanan Banjar, yakni bertepatan dengan masa pemerintahan Sultan Adam al-Watsiq Billah antara 1825-1857 M. Seperti diketahui dari catatan sejarah Kesultanan Banjar, di masa Sultan Adam inilah terwujudnya Undang-Undang Syariat Islam yang dikenal dengan sebutan Undang-Undang Sultan Adam. Di masa ini, penjajahan Belanda boleh dikatakan belum terjadi di Negeri Banjar, karena secara de facto Belanda baru berkuasa setelah mangkatnya Sultan Adam beriringan dengan menjelang wafatnya Datu Taniran.
Di antara murid beliau adalah Tuan Guru Muhammad Thahir bin Syihabuddin al-Naqari, masyhur dengan sebutan Datu Daha.

Manaqib

Syekh H.Abdusshamad Bakumpai bin Mufti Haji Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dilahirkan pada tanggal 24 Dzulqa’idah 1237H bertepatan dengan tanggal 12 Agustus 1822 M di Kampung Penghulu Tengah Marabahan dari seorang ibu Sholehah yang bernama Samayah binti Sumandi,seperti cucu cucu Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari masa kecil berlimpahan ilmu dari keluarganya hingga ketika dewasa ia cuma belajar dengan orang tuanya sendiri yang sangat alim,tapi setelah dirasa cukup barulah ia dikirim kepada pamannya di dikampung Dalam Pagar Martapura,setelah beberapa tahu di Martapura iapun kembali ke Marabahan untuk mengemban misi dan menyebarkan ajaran Islam keberbagai pelosok daerah sekitarnya,beliau kawin dengan seorang perempuan yang bernama Siti Adawiyah binti Buris dan melahirkan 4 orang anak masing masing bernama :
– Zainal Abidin
– Abdurrazak
– Abu Thalhah
– Siti Aisyah
Meskipun sudah mempunyai anak 4 orang namun hasrat beliau belajar ilmu ilmu agama makin membara yang mana kemudian membawa beliau ke sumbernya ilmu yakni ke Tanah Suci Mekkah,beliau berangkat dengan anaknya yang bernama Abdurrazak,sedangkan anaknya yang bernama Abu Thalhah dibawa ke Martapura oleh sepupu beliau H.Muhammad Thasin bin Mufti H.Jamaluddin untuk dididik ilmu agama,setibanya di Mekkah beliau berumpa dngan keponakan beliau yang bernama H.Jamaluddin bin H.Ahmad Kusyasyi yang telah menimba ilmu sekitar 20 tahunan di Tanah Suci,adapun diantara guru guru beliau waktu disana adalah:

Syekh Sulaiman al-Zuhdi an-Naqsyabandi (guru dalam ilmu hakikat dan dari guru beliau inilah mendapatkan ijazah Tareqat Naqsyabandiyah Qadiriyah)
Syekh Sulaiman Muhammad Sumbawa (salah seorang murid Maulana Syekh Muhammad saleh Rais asy-Syafi’i Mufti Mekkah mendapatkan ijazah Thareqat Syadziliyah)
Syekh Khatib Sambas
Setelah 8 tahun beliau beliau mengaji di Mekkah maka keluarlah ijin dari guru gurunya agar mengajarkan ilmu ilmu ke masyarakat dikampung halamannya,kemudian beliau menyampaikan hal ini kepada keponakannya yakni H. Jamaluddin, betapa terkejutnya keponakan beliau ketika mendengar hal ini,karena menurut hematnya pamannya ini belum lama menuntut ilmu hingga belum banyak ilmu yang pamannya dapatkan di Mekkah,ia kemudian berkata ” Wahai paman..mengapakah paman ingin sekali segera pulang,sedangkan paman baru 8 tahun berada disini,sedangkan ananda yang sudah hampir 30 tahun belum terbersit untuk pulang kampung,karena ananda merasa masih sedikit mempunyai ilmu ” kata sang keponakan.menurut riwayat setelah terjadi pembicaraan itu keduanya bersama sama melaksanakan sholat berjamaah,selaku imam adalah Syekh Abdush Shamad,pada saat Syekh Abdush Shamad mengangkt takbir maka hilanglah jasadnya,namun ketika menjelang salam tampaklah kembali jasad Syekh Abdush Shamad dihadapan keponakannya,sangatlah kaget dan heran H.Jamaluddin melihat peristiwa ini akhirnya mengertilah ia akan keadaan pamannya yang sudah mencapai maqam para Aulia,maka setelah sholat selesai mereka berdua ber mudzakarah atau berbincang bincang tentang ilmu agama,saat itulah beliau mengatakan bahwa guru guru Syekh Abdush Shamad memberikan ilmu ilmu kepadanya tidak seperti layaknya orang orang kebanyakan,namun dengan cara menumpahkan seluruh ilmunya kedadanya (baluruk istilah bahasa banjar)sehingga dengan demikian ia dapat dengan cepat menghimpun ilmu ilmu Syariat Thariqat Hakikat dan Ma’rifat dalam waktu yang relatif singkat.
sepulang dari Tanah Suci beliau langsung pulang kekampung halamannya di Marabahan,kemudian ia mengajarkan serta berdakwah di Marabahan dan sekitarnya hingga ramailah para penuntut ilmu yang datang kepadanya dan tak terhitung masyarakat suku Dayak disepanjang sungai Barito yang akhirnya memeluk Islam dihadapan beliau,tak lupa beliau membangun sebuah langgar dan pemondokan untuk para muridnya tak jauh dari rumahnya,selain itu bliau juga mmbangun tempat khalwat dibelakang rumahnya (sekarang menjadi tempat kubah maqamnya),setiap bulan Ramadhan banyak berdatangan para ulama dari Martapura, Banjarmasin, Rantau dan Hulu Sungai serta dari berbagai daerah untuk mempelajari ilmu Thareqat serta ikut berkhalwat, pada akhirnya karena keluasan ilmu beliau maka diangkatlah beliau menjadi Qadhi Bakumpai hingga masyur nama beliau dipanggil Qadhi H.Abdush Shamad Bakumpai.
diantara murid murid beliau yang terkenal diwilayah itu adalah
– H.Syibawaihi (H.Bawai)
– H.Asqalani (salah satu keturunan beliau)

diantara isteri isteri bliau yang lain adalah
– Hj.Ayu binti Khalifah Hasanuddin (tidak dikarunia anak)
– dengan Arfiyah binti sailillah (juga tidak mempunyai keturunan)
– dengan Markamah mendapatkan anak:
1. Siti Hafsah
2. Siti Maimunah
3. Qadhi H.Jafri
Setelah beberapa lama mengajar,berkiprah meneruskan jejak langkah orang tua dan kakeknya akhirnya pada malam Rabu 13 Syafar 1317 H / 22 Juni 1899 rohnya yang suci dipanggil yang Maha Kuasa dalam usia 80 tahun.Qadhi al-Mursyid fit Thariqah Haji Abdush Shamad Bakumpai al-Banjari yang banyak jasanya menyebarkan islam kepada suku Dayak dipesisir daerah aliran Sungai Barito di makamkan di Kampung Tengah Marabahan. Selain kubah makam beliau, di komplek pemakaman beliau juga terdapat makam anak cucu dzuriyat beliau yang hampir semuanya menjadi ulama besar dan qadhi di Kota Marabahan, diantaranya Qadhi H. Jafri bin Datu Abdus Shamad, Qadhi H. Abu Thalhah bin Datu H. Abdus Shamad, Qadhi H. Basiyuni bin Qadhi H. Abu Thalhah, Qadhi H. Qasthalani bin Qadhi H. Basiyuni, Qadhi H. Sibawaihi bin Qadhi H. Basiyuni dll. Wallahu a’lam

Manaqib

Riwayat Datu Sulaiman Amuntai

Pada sekitar abad ke 18 ada sepasang suami istri dari Padang Basar Amuntai Hulu Sungai Utara yang hidup rukun,tidak tercatat secara pasti nama mereka,pada suatu hari mereka pergi ke Martapura yang pada saat itu merupakan ibukota kerajaan Banjar,mereka berkunjung kepada sanak keluarganya yang berada di Martapura melalui sungai dengan membawa perahu atau jukung besar khas Banjar,setelah saling melepas rindu dengan sanak keluarganya mereka pamit pulang,tapi alangkah terkejutnya mereka ketika sampai keperahu,ternyata didalam perahu sudah ada seorang bayi mungil,sadar bahwa bayi tersebut bukan anak mereka,mereka lalu melaporkannya kepada masyarakat sekitarnya,tak lama kemudian datanglah seluruh masyarakat Martapura untuk melihat bayi tersebut,ternyata dari semua masyarakat itu tak ada satupun yang mengaku bahwa bayi tersebut bayi mereka,akhirnya setelah dibicarakan dengan warga setempat,akhirnya bayi tersebut mereka bawa pulang kekampung halamannya untuk di didik dan dipelihara seperti anak kandung mereka sendiri,dan diberi nama Sulaiman,ternyata anak tersebut bukan sembarangan, banyak keganjilan keganjilan yang terjadi sejak iya masih bayi,pada saat bayi anak tersebut tidak pernah mau minum susu,ia cuma mau minum air putih,dan setiap waktu sholat anak tersebut pasti bangun dan tidak mau tidur,keanehan lain pada saat bulan Ramadhan tiba dan orang orang melaksanakan puasa,pada siang hari bayi tersebut tidak mau minum,kecuali saat tibanya berbuka puasa baru bayi tersebut baru mau minum,hal tersebut terus terjadi hingga iya semakin besar,makin besar iya makin banyaklah keanehan keanehan yang terjadi dengan dirinya,selain dipanggil dengan Datu Sulaiman beliau juga dipanggil oleh masyarakat dengan nama Datu Burung,kenapa jadi dipanggil Datu Burung hal ini ada kejadiannya,pada suatu hari beliau yang pada saat itu masih kanak kanak disuruh oleh orang tuanya untuk menunggu padi yang pada saat itu tengah dijemur,padi tersebut dijaga supaya jangan sampai dimakan ayam dan binatang lainnya,sebagai anak yang patuh dan berbakti dengan orang tuanya beliau tidak menolak,tapi apa yang terjadi…apa yang dilakukannya membuat orang tuanya dan seluruh masyarakat kampung menjadi gempar,ternyata untuk melaksanakan tugas yang diberikan orang tuanya beliau naik keatas pohon pisang yang dekat dengan jemuran tersebut,lalu duduk diatas daun pisang tersebut…anehnya jangankan patah daun pisang tersebut,lenturpun tidak dan sejak beliau menunggui jemuran tersebut tak seekor ayam pun yang berani mendekat.
tidak tercatat apakah setelah beliau dewasa,beliau menyebarkan ilmu ilmunya atau diketahui siapa guru guru beliau,yang ada cuma kesaktian kesaktian beliau yang masih disimpan masyarakat sampai kini,pada suatu ketika belanda mau menyerang desa Padang Basar amuntai dan sekitarnya,karena desa Padang Basar terletak ditepi sungai Tabalong maka Belanda melakukan penyerangan melalui sungai dengan kapal laut,mengetahui hal tersebut masyarakat segera melaporkan hal tersebut kepada Datu Sulaiman “Datu !!..Belanda mau menyerang kampung kita,mereka sedang dalam perjalanan menuju ke sini” kata salah seorang warga melapor.
“Tenang ..mereka takkan sampai kesini” sahut Datu Sulaiman.
“mereka sudah dekat Datu,mari kita siapkan segalanya”….
“baik..panggil semua kawan kawan kumpul semua..”
setelah semua pejuang berkumpul beliau lalu mengajak mereka semua ketepi sungai Tabalong,beliau mencari tali lalu dibentangkan melintang keseberang sungai.
“untuk apa tali itu dibentangkan menyeberang sungai ..Datu” tanya seorang warga.
“untuk menghalangi kedatangan Belanda ke daerah kita…”sahut Datu Sulaiman.
benar saja ketika Belanda mendekati kampung Padang Basar mereka melihat bahwa sungai yang mereka arungi buntu,dan akhirnya merekapun berbalik arah tidak jadi menyerang daerah Padang Basar dan sekitarnya.
konon kabarnya apabila Datu Sulaiman ingin makan ikan,ikan yang sedang berkeliaran bebas disungai beliau ambil begitu saja,tanpa menggunakan alat yang lazim dipakai orang,dan juga bila beliau ingin (mengurung ( bahasa banjar) menangkap ikan yang berkeliaran disungai,beliau pancangkan empat buah bilah atau tongkat berbentuk segi empat maka ikan yang berada didalam keempat bilah tersebut tidak bisa lepas.
Pada suatu hari beliau menanam pohon Kutapi dimuka rumah beliau,keada keluarganya beliau berpesan agar tanaman tersebut dipelihara,kalau pohon Kutapi ini sudah besar seperti pohon Kapuk atau Randu maka ajalnya akan tiba,ternyata apa yang dikatakan beliau benar adanya,pada saat pohon Kutapi tersebut sudah besar seperti pohon Kapuk atau Randu maka wafatlah beliau.
sebelum beliau wafat beliau sempat berwasiat agar supaya beliau dimakamkan di Kampung Padang Basar yang merupakan kampung beliau,tapi ketika wafatnya oleh pemerintah setempat beliau dimakamkan di kampung Pangacangan,karena tidak sesuai dengan wasiat maka pada malam harinya salah seorang sanak keluarganya bermimpi bahwa Datu Sulaiman kembali berkubur ketempat yang sudah diwasiatkannya yaitu dikampung Padang Basar,siang harinya kemudian dia ceritakan kepada keluarga lainnya,oleh keluarga akhirnya disepakati untuk membongkar makam di kampung Pangacangan dengan disaksikan seluruh warga,anehnya mayat Datu Sulaiman benar benar tidak ada dan mereka hanya menemukan buluh barencong (bambu yang dibikin runcing),sedangkan dikampung padang Basar muncul onggokan tanah dan onggokan tanah tersebutlah yang diyakini oleh seluruh masyarakat sebagai makam Datu Sulaiman dan diziarahi sampai sekarang.

Manaqib

Syarifah Hubabah Masturo binti Sholeh Al Habsyi dikenal sebagai pendiri dan pimpinan majelis ta’lim khusus ibu-ibu yang terletak di Gg. Damai/Gg. Gagah Lurus, KS. Tubun Pekauman Banjarmasin. selain dikenal sebagi pendiri dan pemimpin majelis ta’lim, beliau juga dikenal sebagai seorang waliyah (wali Allah perempuan), Al ‘arifah Billah, Sholihah, yang terkenal akan karamat-karamatnya. Beliau lahir dan dibesarkan di salah satu sudut Kota Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah (+- 200 km arah utara dari Kota Banjarmasin). Diceritakan ketika beliau masih kecil (+- umur 5 tahun), ketka beliau sedang bermain-main di tepi sungai dekat rumah beliau, tiba-tiba ada seorang laki-laki asing yang mendatangi beliau, belakangan diketahui ternyata laki-laki asing tersebut adalah Nabiyullah Khidhr as. Apabila Al Alim Al Allamah Al Arif Billah Syekh KH. M. Zaini Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul) berziarah ke makam keramat basirih (Al Arif Billah Al Madjzub Al Habib Hmaid bin Abbas Bahasyim), maka beliau selalu menyempatkan untuk singgah dan bersilaturrahim ke kediaman hubabah, bahkan kadangkala beliau juga menginap di rumah hubabah tersebut. Banyak karamat-karamat beliau yang dirasakan oleh orang-orang di sekitar beliau, di antaranya beliau pernah dilihat oleh seorang habib ketika musim haji dan sedang wukuf di arafah, padahal ketika itu beliau sedang terbaring sakit di rumahnya. Pernah juga ketika terjadi kebakaran besar di daerah kelayan banjarmasin terlihat beliau datang dengan kursi rodanya sambil meniup ke arah api yang sedang berkobar dan seketika itu juga api tersebut padam, ajaibnya beliau datang dengan kursi roda tersebut dalam keadaan terbang, padahal ketika kejadian tersebut menurut anak beliau Syarifah Khairunnisa Al Habsyi beliau sedang beristirahat di kamar pribadi beliau. Dan masih banyak lagi karamat-karamat beliau yang dirasakan oleh orang-orang terdekat beliau. Beliau sudah 6 tahun pergi meninggalkan dunia ini, wafat dalam keadaan husnul khatimah, di sore hari kamis, ketika pengajian rutin beliau sedang dilaksanakan di rumah beliau, beliau pun pergi untuk selama-lamanya, sungguh suatu akhir perjalanan hidup yang diharapkan oleh semua orang. Jasad mulia beliau di makamkan keesokan harinya didepan rumah salah seorang anak beliau, tidak jauh dari rumah kediaman beliau yang juga merupakan majelis yang beliau pimpin. Beliau meninggalkan suami, yaitu Al Habib Idrus Al Habsyi, yang merupakan salah seorang tokoh/sesepuh habaib di Kota Banjarmasin, dan meninggalkan beberapa orang anak, di antaranya Syarifah Khairunnisa Al Habsyi, yang sekarang melanjutkan majelis peninggalan beliau. Wallahu a’lam

Manaqib

H. Abdul Ghani bin Abdul Manaf, ayah dari Syekh Muhammad Ghani juga adalah seorang pemuda yang shalih dan sabar dalam menghadapi segala situasi dan sangat kuat dengan menyembunyikan derita dan cobaan. Tidak pernah mengeluh kepada siapapun. Tauhidul Af’al’al, menurut Abu Daudi dalam bukunya “Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Tuan haji Besar) terbitan 1996, sangat dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari oleh Abdul Gani. Karenanya, Abu Daudi berpendapat, ayah dari Guru Sekumpul ini ada¬lah seorang yang Arif-Billah dan tidak mengherankan kalau beliau menurunkan zuriat yang alim dan shalih, Alimul Allamah Asy Syekh Muhammad Zaini Ghani.

Manaqib

Salah satu makam yang memiliki karamat atau dalam bahasa Banjar disebut kubur bakaramat adalah makam Wali Katum. Dimana makam beliau juga sering kali ramai dikunjungi oleh para peziarah Islam yang datang. Meski demikian, memang belum banyak yang mengetahui mengenai siapa sebenarnya Wali Katum tersebut. Berikut beberapa sejarah mengenai kisah Wali Katum semasa hidupnya.

Wali Katum merupakan sosok pria pribumi yang tinggal di Tabudarat kecamatan Labuan Amas Selatan Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Nama asli Wali Katum adalah Muhammad Ramli bin Katutut. Pada masa kecil, beliau dikenal dengan nama Artum Ali. Semasa hidupnya dilalui olehnya dengan hanya mengabdi dan beribadah kepada Allah SWT tanpa sedikit pun berusaha atau bekerja.

Dimana dalam sejarahnya disebutkan kalau memang ada makanan maka beliau akan makan, namun jika tidak ada maka dipastikan beliau akan berpuasa. Meski dalam kondisi yang kesulitan tersebut, Wali Katum tidak pernah merasa sedih dan pilu atau bahkan menjadi peminta-minta serta menyusahkan orang lain. Selain itu, kebiasaan beliau adalah berhalwat atau berhaluat alias menyendiri atau menutup dari dari orang banyak. Oleh karena kebiasaan beliau inilah, akhirnya tidak banyak kegiatan dan cerita yang bisa didapatkan oleh masyarakat sekitar mengenai beliau. Namun, di masyarakat beliau hanya dikenal sebagai Wali Katum.

Nama Katum sendiri merupakan nama yang diambil dari Bahasa Arab. Dimana Katum sendiri berarti sembuyi. Salah satu kebiasaan Wali Katum adalah apabila beliau bepergian keluar rumah, maka dirinya akan selalu membawa sebuah Al Quran yang kemudian akan dibaca olehnya ketika beliau sedang berhenti atau sedang beristirahat. Al Quran yang selalu menemani perjalanan Wali Katum ini pun pada akhirnya tidak lagi berbentuk layaknya Al Quran pada umumnya yakni berbentuk persegi. Al Quran Wali Katum pun berbentuk lonjong karena pada ujung-ujung sisinya telah aus terkikis karena memang sangat sering dibuka dan digunakan untuk dibaca.

Pada akhirnya beliau pun wafat pada tanggal 24 Juni 1982 M yang bertepatan dengan hari ke 29 Sya’ban 1402 H kala itu dimana beliau berusia 70 tahun. Anda yang berziarah ke makam Wali Katum nantinya akan menemukan tiga buah makam. Dimana makam tersebut antara lain adalah makam dari :

  1. Wali Katum
  2. Isteri Wali Katum yang bernama Shaimah binti Manshur
  3. Anak Wali Katum yang bernama Siti Aisyah
Manaqib

Pulau Datu adalah pulau kecil yang terdapat di dekat Pantai Batakan, kecamatan Panyipatan, Tanah Laut, Kalsel. Dinamakan pulau Datu karena di pulau tersebut terdapat makam seorang datu (sunan/penyebar agama Islam) yang dikenal dengan sebutan Datu Pamulutan, yang dahulu punya kegemaran menangkap burung dengan pulut (getah).

Datu Pamulutan ini bukan nama asli beliau melainkan hanya sebutan/gelar yang diberikan masyarakat karena semasa hidup beliau suka mamulut (cara berburu dengan menggunakan getah, biasanya untuk berburu unggas) burung.

Menurut cerita warga setempat dahulunya pulau Datu dan pantai Tanjung Dewa merupakan satu kesatuan, namun karena proses alam maka akhirnya pulau Datu dan pantai Tanjung Dewa terpisah.

Jika kita ingin ke Pulau Datu kita tinggal menyewa perahu yang ada disana. Kita tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam karena biayanya tidak terlalu mahal. Berdasarkan kalender wisata pada bulan Maret ini akan dilaksanakan haul Datu Pamulutan di desa Tanjung Dewa tersebut.

Selain bisa menikmati wisata alam kita juga bisa menikmati wisata religius disana. Bagi yang beruntung, di sekitar Pulau Datu juga akan ditemui beberapa ikan lumba-lumba berkeliaran.

Manaqib Datu PamulutanDatu Pamulutan sebenarnya bernama Sultan Hamidinsyah yang berasal dari Batang Banyu Mangapan Martapura, sehingga nama M Thaher merupakan nama samaran dalam menjalankan tugas sebagai wali dan hamba Allah.

Sultan Hamidinsyah ini mempunyai adik yang bernama Sultan Ribuansyah yang juga seorang pengemban dakwah, dalam menyebarkan Islam mereka menempuh jalan masing-masing, yaitu Hamidinsyah atau Datu Pamulutan ke arah timur dan adiknya kearah barat.

Datu Pamulutan mempunyai seorang murid setia yang selalu mengiringi perjalanan beliau, namanya H Syamsudin yang mempunyai nama asli Bamasara.

Syamsudin, menurut pendapat sebagian orang adalah penduduk asli Tanjung Dewa yang juga dimakamkan di Pulau Datu, posisinya lurus dihunjuran (bagian kaki) makam gurunya. Didalam kubah datu pamulutan, masih ada dua makam lainnya, yaitu makam H Abdussamad dan H Jafri, mereka adalah dua bersaudara itu sebagai seorang guru agama dan pada saat wafatnya juga berpesan agar dimakamkan di pulau Datu.

Datu Pamulutan selama hidupnya senantiasa melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai seorang wali untuk menyebarkan agama, ia juga memiliki jiwa patroiotisme dan heroisme, terbukti dengan perannya dalam mengkoordinir masyarakat Desa Tanjung Dewa untuk mengusir penjajan Portugis.

Kemudian, dari semua kegiatan yang patut dicatat selama hidupnya, Datu Pamulutan mampu membagi waktunya untuk tiga kegiatan yang bukan pekerjaan mudah, yaitu menyebarkan agama kepada masyarakat, mengkoordinir masyarakat untuk melawan penjajah yang ingin mendarat melalui pantai muara Tanjung Dewa dan sekitarnya, juga tetap menjalankan hobinya memulut (menjebak, Red) burung di daerah Tanjung Dewa, sehingga dari sinilah ia mendapat gelar sebagai Datu Pamulutan.

Dalam perjuangan melawan penjajah yang sudah sempat memasuki Kota Bandarmasih, ia mempunyai anak buah, yaitu Patih Mulur dan Patih Matis yang bertugas di daerah Pulau Pinang, Datu Saliwah yang punya ciri muka hilang sebelah di Tabuniu, Pangeran Penyapu Rantau, Datu Sumpit Gunung Dewa, Panglima Dumalik Kandangan Lama di Kandangan Lama mempunyai sebuah senjata sakti yaitu parang jarum, karena terbuat dari sekarung jarum, Patih Singa di Tanjung Selatan.

Patih Arjan di daerah perbatasan Sebuhur.Yang cukup menonjol dalam hal ini masalah fanatisme beragama, benar- benar di laksanakan antara yang halal dan haram yang suci dan najis.

Sehingga sebelum beliau wafat sudah sempat berpesan, bila kelak dipanggil oleh Allah agar dikuburkan di desa Tanjung Dewa. Setelah berpesan, beliau menggaris batas tanah dengan ibujari kaki. Untuk membatasi tanah agar tidak tercemar dari hal-hal najis, seperti dikencingi anjing, apalagi sampai diinjak penjajah kafir. Di sinilah tampak keramat beliau, tanah yang digaris lambat laun menjadi sungai kecil dan akhirnya menjadi lautan. Sehingga tanah yang digaris jadi pulau tersendiri.

Datu pamulutan wafat dan dimakamkan di Pulau Datu tahun 1817 Masehi, sedangkan muridnya menyusul 8 tahun kemudian atau pada tahun 1825 Masehi. Sebenarnya ia wafat di desa tempat tinggalnya di Martapura, kelak bila meninggal dimakamkan ke Tanjung dewa.

Karena jalan waktu itu masih belum seperti sekarang, maka jenazah dibawa lewat sungai kemudian menyisir laut dengan menggunakan sampan. Di sini kembali terlihat karamahnya, sampan yang digunakan menurut pandangan orang awam bukanlah sampan yang layak untuk mengarungi lautan, karena kecil dan lagi bocor, sehingga ragu apakah sampai atau tidak.

Namun dengan ridho dan rahmat Allah akhirnya sampan bisa sampai ke Tanjung Dewa. Sampai sekarang, tanah yang menjadi makam beliau terpisah dari daratan, berjarak sekitar 1,2 – 1,5 kilometer. Sekarang sudah ada dermaga yang cukup sederhana, pengelolaan makam sendiri dilakukan oleh pihak ahli waris dan kerabat H Syamsudin muridnya, Makam keramat ini juga sudah menjadi tempat wisata religius, memanjatkan doa untuk dirinya.

Namun karena letaknya di dekat wisata Batakan. Kondisi tersebut memungkinkan masyarakat sekitar untuk mendapat penghasilan tambahan, yaitu mengantar peziarah menyeberang dengan menggunakan perahu.

Manaqib

Menurut riwayat Datu Insad berasal dari Kampung Kuin Banjarmasin. Beliau adalah salah seorang murid dari khatib Dayan, seorang ulama dari Kerajaan Demak yang mengislamkan Pangeran Samudera alias Pangeran Suriansyah. Dari Khatib dayan inilah Datu Insad menimba ilmu pengetahuan Agama Islam antara lain ilmu Syariat, ilmu Tauhid dan ilmu tentang pengenalan kepada Allah SWT.

Adapun nama asli beliau adalah maulana Abdush Samad diperkirakan lahir pada tahun 1015 H/1594 M dan wafat pada 5 Rabiul Awal 1135 H/1714 M. Datu Insad adalah nama masyhur beliau, selain itu juga beliau dikenal dengan Datu Shamada atau Datu Tungkaran.

Menurut riwayatnya banyak perbuatan Datu Insad yang sangat menyalahi adat bagi orang awam, bahkan sulit diterima oleh akal manusia, namun ini merupakan karunia Allah SWT terhadap para wali untuk memperlihatkan keramatnya sebagai bukti dan pertanda bahwa beliau adalah seorang Waliullah Ta’ala. Karena kelebihan itulah sering dikatakan orang “ Wali “ atau keramat yang disertakan orang dengan ilmu ma’rifatnya. Dengan demikian seorang / para Waliullah dengan keramatnya dan para Rasul serta Nabi dengan Mukjijatnya yang setiap orang berhak mengimaninya dan membenarkan para Wali dan Para Nabi.

Tentang hubungan Datuk Samada alias Datu Insad dengan Pangeran Suriansyah diceritakan bahwa Datu Insad telah membantu kerajaan dan diangkat sebagai pengatur surat kerajaan ke daerah – daerah pantai laut, seperti Tabanio dan biasanya beliau berangkat pagi – pagi sekali dengan jalan cepat atau kecepatan tinggi, sehingga beliau sore hari sudah berada kembali di Kayu Tangi ( Kerajaan ).

Namun suatu ketika Datu Insad menderita suatu penyakit, yakni penyakit kurap, akhirnya beliau memutuskan untuk meminta izin kepada guru beliau Khatib Dayan dan Pangeran Suriansyah meninggalkan Istana guna melakukan penyembuhan sekaligus untuk memperdalam ilmu beliau ditempat-tempat yang tenang, Beliau tinggalkan Istana menuju ke daerah Padang Purun sambil terus berkhalawat untuk kesembuhan penyakit beliau.

Akhirnya penyakit yang beliau derita sembuh, hal ini tak terlepas dari berkat ilmu beliau menetapkan pegangan tentang diri dan rahasia ilmu atas keyakinan yang sempurna dengan harapan kesembuhan terhadap penyakitnya. Dari kejadian itu hingga masyhurlah sebutan dengan “Datu Insad” artinya “ melebur diri kepada insan yang asli ”, yang mengandung rahasia kesempurnaan hidup.

Perjalanan hidup Datu Insad semula mengembara di daerah danau bamban di desa Martadah, mencari nafkah dengan berkebun dan mencari ikan. Keluarga terdekat beliau adalah sepupu beliau bernama Datuk Maulana Abdullah Puling, yang bermakam di Pilung di Desa Martadah. Keduanya mempunyai keramat atau kelebihan masing – masing.

Banyak cerita – cerita menarik tentang beliau, beliau memiliki keistimewaan ( memiliki kekuatan gaib ) seperti tahan api, dapat menyusun telur satu – satu tinggi keatas, dapat menyeberang laut dan dapat bersembunyi dalam perut orang lain. Beliau juga mempunyai hobbi memulut burung sambil mengembangkan agama. Namun tidak pernah membawa burung setelah memulut. Dalam memulut beliau biasanya membawa bekal ketupat, wajik dan cingkaruk. Karenanya sampai saat ini di daerah desa Asahan terdapat sebuah ketupat yang dinamai Munggu ketupat.

Yang paling menarik adalah cerita tentang kedatangan seorang ulama dari Demak bernama Datuk Samadi. Menurut cerita Datuk Samadi adalah seorang ahli dalam ilmu ma’rifat. Beliau datang dengan niat untuk bertemu dengan Datu Insad, begitu tingginya ilmu beliau sehingga untuk menyeberangi laut jawa beliau hanya menggunakan kulit semangka sebagai perahu. Akhirnya Datuk Samadi berangkat menuju Sambangan dengan petunjuk seorang nelayan.

Nampaknya ditempat ini terjadi adu kekuatan, begitu tiba dihalaman kediaman Datuk Samada alias Datu Insad, Datuk Samadi lalu memberi salam yang mendapat jawaban dari Datu Insad. Saat itu Datuk Samadi melihat sebuah kapak yang segera diambil dan dilemparkan kearah Datu Insad, Datu Insad segera mengambil kayu dan melemparkannya kearah kapak tersebut. Kapak itupun membelah kayu itu dengan sendirinya. Kemudian Datuk Samadi mengambil sebuah halu ( alu ) dan melontarkan halu tersebut kearah Dati Insad, dengan gerak cepat Datuk Insad mengambil Lesung dan dilontarkan kea rah Datuk Samadi maka terjadi halu menumbuk lesung dengan suara bertalu – talu. Datuk Samadi masih belum merasa puas, ia masih ingin mencoba ilmu yang di miliki Datu Insad, kemudian Datuk Samadi minta kepada Datu Insad “ basambunyian “.

Kata Datu Insad “ bersembunyilah engkau wahai Datuk Samadi, aku akan mencari engkau “. Menurut cerita Datuk Samadi bersembunyi di Pahatan tiang, namun berhasil ditemukan kemudian Datuk Samadi bersembunyi menyusupkan diri diatap daun rumah itupun berhasil ditemukan Datu Insad, persembunyian ketiga yakni dilubang puputan api juga dapat ditemukan Datu Insad.

Setelah itu Datuk Samada alias Datu Insad berkata “ cukup sudah tiga kali engkau menguji kini giliranku untuk bersembunyi. Apabila engkau dapat mencari tempat persembunyianku dan dapat menemukan diriku aku rela menjadikan engkau sebagai guruku, tetapi apabila engkau tidak berhasil berarti ilmu Ma’rifatku lebih tinggi dari padamu.

Datu Insad akhirnya bersembunyi, Datuk Samadi mencari dan terus mencari Dati Insad namun tidak berhasil menemukan, saking bosannya mencari akhirnya Datuk Samadi berteriak “ Hai Datu Insad dimana engkau ? ‘’ Datu Insad menjawab “ Aku berada dalam perutmu “, kemudian Datu Insad keluar dan ketika itu pula Datuk Samadi mengangkat Datu Insad sebagai guru dan merelakan diri sebagai Khadam hingga ke akhir hayat.

Seperti juga Makam Keramat di Pulau Datu maupun Keramat Istana, Makam Datu Insad juga termasuk Keramat berpindah, jelas bukan dipindahkan tetapi berpindah karena karomah.

Bahkan masyarakat mempercayai bahwa dengan izin Allah berziarah ke makam Datu Insad dapat mengabulkan hajad mereka, seperti jodoh, lulus ujian sekolah, bisnis dll.

Manaqib

Habib Ahmad bin Hasan Bahasyim adalah keponakan dari Al Arif Billah Al Majdzub Al Habib Hamid bin Abbas Bahasyim, keramat basirih. Diberi gelar dengan Habib Batilantang dikarenakan beliau selama seumur hidup beliau tidak mampu untuk bangun dan hanya berbaring di tempat tidur (dalam bahasa banjar disebut “batilantang”). Beliau terkenal sebagai orang yang Arif Billah dan mendalam ilmu agamanya. Diantara anak beliau yang juga menjadi seorang waliyullah adalah “Kai Kambing”, waliyullah yang bermakam di Samarinda Kalimantan Timur

Manaqib

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (lahir di Lok Gabang, 17 Maret 1710 – meninggal di Dalam Pagar, 3 Oktober 1812 pada umur 102 tahun) adalah ulama fiqih mazhab Syafi’i yang berasal dari kota Martapura di Tanah Banjar (Kesultanan Banjar), Kalimantan Selatan. Dia hidup pada masa tahun 1122-1227 hijriyah. Dia mendapat julukan anumerta Datu Kelampaian.

Dia adalah pengarang Kitab Sabilal Muhtadin yang banyak menjadi rujukan bagi banyak pemeluk agama Islam di Asia Tenggara.

Beberapa penulis biografi Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, antara lain Mufti Kerajaan Indragiri Abdurrahman Siddiq, berpendapat bahwa ia adalah keturunan Alawiyyin melalui jalur Sultan Abdurrasyid Mindanao.

Jalur nasabnya ialah Maulana Muhammad Arsyad Al Banjari bin Abdullah bin Tuan Penghulu Abu Bakar bin Sultan Abdurrasyid Mindanao bin Abdullah bin Abu Bakar Al Hindi bin Ahmad Ash Shalaibiyyah bin Husein bin Abdullah bin Syaikh bin Abdullah Al Idrus Al Akbar (datuk seluruh keluarga Al Aidrus) bin Abu Bakar As Sakran bin Abdurrahman As Saqaf bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali Maula Ad Dark bin Alwi Al Ghoyyur bin Muhammad Al Faqih Muqaddam bin Ali Faqih Nuruddin bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khaliqul Qassam bin Alwi bin Muhammad Maula Shama’ah bin Alawi Abi Sadah bin Ubaidillah bin Imam Ahmad Al Muhajir bin Imam Isa Ar Rumi bin Al Imam Muhammad An Naqib bin Al Imam Ali Uraidhy bin Al Imam Ja’far As Shadiq bin Al Imam Muhammad Al Baqir bin Al Imam Ali Zainal Abidin bin Al Imam Sayyidina Husein bin Al Imam Amirul Mu’minin Ali Karamallah wajhah wa Sayyidah Fatimah Az Zahra binti Rasulullah SAW.

Sejak dilahirkan, Muhammad Arsyad melewatkan masa kecil di desa kelahirannya Lok Gabang, Martapura. Sebagaimana anak-anak pada umumnya, Muhammad Arsyad bergaul dan bermain dengan teman-temannya. Namun pada diri Muhammad Arsyad sudah terlihat kecerdasannya melebihi dari teman-temannya. Begitu pula akhlak budi pekertinya yang halus dan sangat menyukai keindahan. Di antara kepandaiannya adalah seni melukis dan seni tulis. Sehingga siapa saja yang melihat hasil lukisannya akan kagum dan terpukau. Pada saat Sultan Tahlilullah sedang bekunjung ke kampung Lok Gabang, sultan melihat hasil lukisan Muhammad Arsyad yang masih berumur 7 tahun. Terkesan akan kejadian itu, maka Sultan meminta pada orang tuanya agar anak tersebut sebaiknya tinggal di istana untuk belajar bersama dengan anak-anak dan cucu Sultan. Di istana, Muhammad Arsyad tumbuh menjadi anak yang berakhlak mulia, ramah, penurut, dan hormat kepada yang lebih tua. Seluruh penghuni istana menyayanginya dengan kasih sayang. Sultan sangat memperhatikan pendidikan Muhammad Arsyad, karena sultan mengharapkan Muhammad Arsyad kelak menjadi pemimpin yang alim.

Manaqib

Pangeran Antasari (lahir di Kayu Tangi, Kesultanan Banjar, 1797 atau 1809 – meninggal di Bayan Begok, Hindia Belanda, 11 Oktober 1862 pada umur 53 tahun) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia.

Ia adalah Sultan Banjar. Pada 14 Maret 1862, dia dinobatkan sebagai pimpinan pemerintahan tertinggi di Kesultanan Banjar (Sultan Banjar) dengan menyandang gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin dihadapan para kepala suku Dayak dan adipati (gubernur) penguasa wilayah Dusun Atas, Kapuas dan Kahayan yaitu Tumenggung Surapati/Tumenggung Yang Pati Jaya Raja.

Semasa muda nama dia adalah Gusti Inu Kartapati. Ibu Pangeran Antasari adalah Gusti Hadijah binti Sultan Sulaiman. Ayah Pangeran Antasari adalah Pangeran Masohut (Mas’ud) bin Pangeran Amir. Pangeran Amir adalah anak Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah yang gagal naik tahta pada tahun 1785. Ia diusir oleh walinya sendiri, Pangeran Nata, yang dengan dukungan Belanda memaklumkan dirinya sebagai Sultan Tahmidullah II Pangeran Antasari memiliki 3 putera dan 8 puteri. Pangeran Antasari mempunyai adik perempuan yang bernama Ratu Antasari alias Ratu Sultan Abdul Rahman yang menikah dengan Sultan Muda Abdurrahman bin Sultan Adam tetapi meninggal lebih dulu setelah melahirkan calon pewaris kesultanan Banjar yang diberi nama Rakhmatillah, yang juga meninggal semasa masih bayi.

Pangeran Antasari tidak hanya dianggap sebagai pemimpin Suku Banjar, dia juga merupakan pemimpin Suku Ngaju, Maanyan, Siang, Sihong, Kutai, Pasir, Murung, Bakumpai dan beberapa suku lainya yang berdiam di kawasan dan pedalaman atau sepanjang Sungai Barito, baik yang beragama Islam maupun Kaharingan.

Setelah Sultan Hidayatullah ditipu belanda dengan terlebih dahulu menyandera Ratu Siti (Ibunda Pangeran Hidayatullah) dan kemudian diasingkan ke Cianjur, maka perjuangan rakyat Banjar dilanjutkan pula oleh Pangeran Antasari. Sebagai salah satu pemimpin rakyat yang penuh dedikasi maupun sebagai sepupu dari pewaris kesultanan Banjar. Untuk mengokohkan kedudukannya sebagai pemimpin perjuangan melawan penjajah di wilayah Banjar bagian utara (Muara Teweh dan sekitarnya), maka pada tanggal 14 Maret 1862, bertepatan dengan 13 Ramadhan 1278 Hijriah, dimulai dengan seruan:

“Hidup untuk Allah dan Mati untuk Allah!”

Seluruh rakyat, para panglima Dayak, pejuang-pejuang, para alim ulama dan bangsawan-bangsawan Banjar; dengan suara bulat mengangkat Pangeran Antasari menjadi “Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin”, yaitu pemimpin pemerintahan, panglima perang dan pemuka agama tertinggi.

Tidak ada alasan lagi bagi Pangeran Antasari untuk berhenti berjuang, ia harus menerima kedudukan yang dipercayakan oleh Pangeran Hidayatullah kepadanya dan bertekad melaksanakan tugasnya dengan rasa tanggung jawab sepenuhnya kepada Allah dan rakyat.

Manaqib

Al-Alimul Allamah Mufti HM Amin sendiri merupakan cucu dari Al-Alimul Fadhil Qadhi HM Said bin Mumin, yang kawin dengan Tuan Giat, yangmerupakan saudara Tuan Guwat, salah seorang isteri Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjary.

Dengan kepandaian dan ahlak mulia yang dimiliki, Datu Amin yang pernahmenuntut ilmu di Makkah ini, menjadi sosok yang mudah mencerna ilmu agama. Jadi, wajar bila Datu Amin menguasai beberapa bidang ilmu keagamaan, khususnya ilmu Alquran, syariat, dan hakikat.

Bahkan ketinggian ilmunya, Datu Amin pernah dipercaya menjadi Mufti diKerajaan Banjar tempo duli di Banjarmasin. Selain itu, Datu Amin juga merupakan sosok yang keras dan tegas dalam menegakan yang haq dan memberantas kebathilan.

Selain itu, Datu Amin juga memiliki zuriat-zuriat yang mumpuni dalambidang keagamaan, seperti Alimul Fadhil HM Yunan dan Alimul Fadhil H Marwan dan masih banyak lagi zuriatnya yang menguasai ilmu keagamaan.

Manaqib

Kubah Surgi Mufti adalah makam dari seorang ulama bernama Haji Jamaluddin yang pernah menjadi mufti di Banjarmasin dan mendapat gelar anumerta Surgi Mufti (almarhum= surgi (Banjar)/swargi (Jawa). Kubah berasal dari bahasa Arab “qubbah” yaitu cungkup makam. Makam ini terdapat di Kelurahan Surgi Mufti, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.

Manaqib

Kubah Habib Basirih adalah sebuah makam keramat seorang ulama yang menjadi objek wisata ziarah di Banjarmasin. Kubah ini letaknya tidak begitu jauh dari jembatan tol menuju kawasan Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin. Kubah ini berada di Jl Keramat RT 13, Kelurahan Basirih, Kecamatan Banjarmasin Barat.

Habib Hamid bin Abbas Bahasyim atau lebih dikenal dengan sebutan Habib Basirih adalah seorang ulama Banjar. Silsilahnya, Habib Hamid bin Abbas bin Abdullah bin Husin bin Awad bin Umar bin Ahmad bin Syekh bin Ahmad bin Abdullah bin Aqil bin Alwi bin Muhammad bin Hasyim bin Abdullah bin Ahmad bin Alwi bin Ahmad Al Faqih bin Abdurrahman bin Alwi Umul Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath. Konon, antara Habib Basirih dengan salah satu wali songo, Sunan Ampel (Raden Rahmat), masih ada hubungan kekeluargaan. Sama-sama keturunan dari Waliyullah Muhammad Shahib Mirbath (keturunan generasi ke-16 dari Rasulullah Muhammad SAW).

Kedua tokoh ulama besar di jamannya ini, bertemu pada Alwi Umul Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath. Sunan Ampel jalur putra Alwi Umul Faqih yang bernama Abdul Malik sedang Habib Basirih jalur putra Alwi Umul Faqih yang bernama Abdurrahman. Lalu, jika Sunan Ampel adalah keturunan ke 23 dari Rasulullah Muhammad SAW, maka Habib Basirih merupakan keturunan ke-36.

Untuk menuju kubah Habib Basirih, bisa ditempuh lewat jalur darat dan sungai. Menggunakan angkutan darat melalui Jl.Gubernur Subardjo, Lingkar Selatan (jalan tol), Jl.Trisakti, Komplek Lumba-Lumba atau memanfaatkan Sungai Basirih.

Kemudian, saat berada di kubah Habib Basirih, kita akan melihat beberapa makam keramat lainnya. Tak jauh dari Kubah Habib Basirih, terdapat pula makam-makam lainnya. Antara lain makam keponakan Habib Basirih, yakni Habib Batilantang (Habib Ahmad bin Hasan bin Alwi bin Idrus Bahasyim) yang berada di seberang Sungai Basirih, juga makam ibu Habib Basirih, Syarifah Ra’anah dan makam-makam lainnya didekat Kubah Habib Basirih.

Manaqib
Semua Makam Semua Daerah

Tempat Ziarah

  • Sultan Suriansyah (Pangeran Samudera/Panembahan Batu Habang)

    Sultan Suriansyah (Pangeran Samudera/Panembahan Batu Habang)

    Pahlawan Nasional

    Read more
  • Kubah Datu Sanggul (Syekh Muhammad Abdussamad)

    Kubah Datu Sanggul (Syekh Muhammad Abdussamad)

    Ulama

    Read more
  • Makam KH. Mahfudz Amin bin H.M Ramli

    Makam KH. Mahfudz Amin bin H.M Ramli

    Ulama

    Read more
  • Makam Tuan Guru H. Ahmad Bakeri (Guru Bakeri) Gambut

    Makam Tuan Guru H. Ahmad Bakeri (Guru Bakeri) Gambut

    Ulama

    Read more
  • Makam Syekh Abdul Hamid (Datu Abulung), Martapura

    Makam Syekh Abdul Hamid (Datu Abulung), Martapura

    Ulama

    Read more
  • Makam Mufti Syekh H. M. Arsyad (Datu Arsyad Lamak) bin Mufti Syekh H. M. As’ad Al Banjari (Kubah Pagatan)

    Makam Mufti Syekh H. M. Arsyad (Datu Arsyad Lamak) bin Mufti Syekh H. M. As’ad Al Banjari (Kubah Pagatan)

    Ulama

    Read more
  • Makam Syekh Aminullah (Datu Bagul)

    Makam Syekh Aminullah (Datu Bagul)

    Ulama

    Read more
  • Makam Habib Ibrahim bin Umar Al Habsyi, Nagara

    Makam Habib Ibrahim bin Umar Al Habsyi, Nagara

    Ulama

    Read more
  • Makam Syekh Ahmad bin Mufti Syekh M. As’ad Al Banjari (Datu Ahmad Balimau)

    Makam Syekh Ahmad bin Mufti Syekh M. As’ad Al Banjari (Datu Ahmad Balimau)

    Ulama

    Read more
  • Makam Syekh H. Sa’duddin/Syekh H. Thoyib (Datu Taniran) Kandangan

    Makam Syekh H. Sa’duddin/Syekh H. Thoyib (Datu Taniran) Kandangan

    Ulama

    Read more
  • Makam Datu Abdus Shamad Al Banjari (Datu Bakumpai)

    Makam Datu Abdus Shamad Al Banjari (Datu Bakumpai)

    Ulama

    Read more
  • Makam Syekh Sayyid Sulaiman

    Makam Syekh Sayyid Sulaiman

    Ulama

    Read more
  • Makam Syarifah Hubabah Mastura binti Sholeh Al Habsyi

    Makam Syarifah Hubabah Mastura binti Sholeh Al Habsyi

    Ulama

    Read more
  • Kubah H. Abdul Ghani bin Abdul Manaf

    Kubah H. Abdul Ghani bin Abdul Manaf

    Ulama

    Read more
  • Makam Wali Katum – Gusti Muhammad Ramli bin Gusti Anang Katutut

    Makam Wali Katum – Gusti Muhammad Ramli bin Gusti Anang Katutut

    Ulama

    Read more
  • Pulau Datu Pamulutan – Sultan Hamidinsyah

    Pulau Datu Pamulutan – Sultan Hamidinsyah

    Ulama

    Read more
  • Makam Datu Isnad – Maulana Abdus Samad

    Makam Datu Isnad – Maulana Abdus Samad

    Ulama

    Read more
  • Kubah Habib Batilantang – Habib Ahmad bin Hasan Bahasyim

    Kubah Habib Batilantang – Habib Ahmad bin Hasan Bahasyim

    Ulama

    Read more
  • Makam Datu Kalampayan – Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari

    Makam Datu Kalampayan – Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari

    Ulama

    Read more
  • Makam Pangeran Antasari

    Makam Pangeran Antasari

    Pahlawan Nasional

    Read more
  • Kubah Datu Amin – Syekh Muhammad Amin bin Yaqub

    Kubah Datu Amin – Syekh Muhammad Amin bin Yaqub

    Ulama

    Read more
  • Kubah Surgi Mufti – Syekh H. Jamaluddin

    Kubah Surgi Mufti – Syekh H. Jamaluddin

    Ulama

    Read more
  • Kubah Habib Basirih – Habib Hamid bin Abbas Bahasyim

    Kubah Habib Basirih – Habib Hamid bin Abbas Bahasyim

    Ulama

    Read more